Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menekankan pentingnya peran asuransi untuk memitigasi risiko pengusaha. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Hari Asuransi 2025 yang berlangsung di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali. Penekanan ini bertujuan untuk memastikan keberlanjutan usaha para pelaku UMKM di seluruh Indonesia.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan ancaman perubahan iklim yang semakin terasa dampaknya, asuransi menjadi instrumen penting bagi proses bisnis. Namun, fakta mengejutkan menunjukkan hanya sekitar 2,96 persen UMKM di Indonesia yang memiliki asuransi kebencanaan. Data juga mencatat bahwa 53 persen UMKM tidak melakukan persiapan apa pun dalam menghadapi potensi bencana yang bisa datang kapan saja.
Maman Abdurrahman mengajak seluruh asosiasi perusahaan asuransi untuk berkolaborasi secara lebih intensif dalam meningkatkan literasi asuransi. Rendahnya literasi ini bukan hanya persoalan pengetahuan, tetapi juga berdampak langsung terhadap ketahanan usaha. Asuransi memiliki peran strategis dalam mendukung pembiayaan produktif pemerintah, seperti program Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Advertisement
Advertisement
Peran Krusial Asuransi di Tengah Tantangan Ekonomi Global
Asuransi memegang peranan vital dalam menjaga keberlanjutan usaha, khususnya bagi UMKM, di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Ancaman perubahan iklim juga semakin memperparah risiko yang dihadapi oleh para pengusaha. Menteri Maman Abdurrahman secara tegas menyatakan bahwa asuransi adalah instrumen penting untuk menghadapi situasi tersebut.
Data dari Asian Development Bank (ADB) tahun 2024 menunjukkan bahwa UMKM, terutama usaha mikro, sangat rentan terhadap guncangan ekonomi dan bencana. Kerentanan ini mengakibatkan dampak signifikan ketika bencana terjadi. Sebanyak 40 persen UMKM tidak mampu bangkit setelah terdampak bencana, sementara 25 persen lainnya baru dapat pulih setelah lebih dari dua tahun.
Melihat kondisi ini, asuransi tidak hanya berfungsi sebagai proteksi finansial semata. Menurut Menteri Maman, "Asuransi hadir bukan sekadar sebagai proteksi, tetapi juga menjadi penopang semangat untuk bangkit dan melanjutkan usaha." Pernyataan ini menggarisbawahi fungsi asuransi sebagai pendorong moral dan keberlanjutan bisnis.
Advertisement
Advertisement
Rendahnya Literasi dan Inklusi Asuransi di Kalangan UMKM
Meskipun peran asuransi sangat penting, tingkat inklusi dan literasi produk asuransi di Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini menjadi tantangan besar dalam upaya meningkatkan ketahanan UMKM. Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak pelaku usaha yang belum sepenuhnya memahami manfaat dan pentingnya perlindungan asuransi.
Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2025, indeks literasi perasuransian memang mengalami peningkatan signifikan menjadi 45,45 persen, dari 36,9 persen pada tahun 2024. Indeks inklusi juga melonjak menjadi 28,50 persen dari 12,12 persen di tahun sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan adanya kemajuan, namun kesenjangan antara inklusi dan literasi masih terlihat jelas.
Kesenjangan ini menandakan bahwa masih banyak masyarakat yang menggunakan produk keuangan tanpa pemahaman penuh. Oleh karena itu, Menteri Maman mengajak seluruh asosiasi perusahaan asuransi untuk berkolaborasi lebih intensif. Tujuannya adalah meningkatkan literasi asuransi di kalangan pengusaha UMKM, agar mereka dapat mengambil keputusan yang lebih tepat terkait perlindungan usaha mereka.
Advertisement
Advertisement
Asuransi Sebagai Penopang Pembiayaan Produktif dan KUR
Rendahnya literasi asuransi bukan hanya persoalan pengetahuan, tetapi juga berdampak langsung terhadap ketahanan usaha dan akses terhadap pembiayaan. Asuransi memiliki peran strategis dalam mendukung pembiayaan produktif pemerintah, salah satunya melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dengan adanya perlindungan asuransi, risiko bagi lembaga pembiayaan dapat berkurang.
Melalui perlindungan asuransi, penyaluran kredit dan akses pembiayaan bagi pengusaha UMKM diharapkan dapat terus meningkat. Hal ini akan mempermudah UMKM mendapatkan modal usaha yang diperlukan untuk mengembangkan bisnis mereka. "Melalui perlindungan asuransi, penyaluran kredit dan akses pembiayaan bagi pengusaha UMKM diharapkan dapat terus meningkat," kata Maman.
Kementerian UMKM mencatat bahwa hingga 17 Oktober 2025, penyaluran KUR telah mencapai Rp217,1 triliun. Dana ini disalurkan kepada hampir 3,7 juta pengusaha UMKM penerima manfaat di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 60,6 persen atau senilai Rp129 triliun disalurkan ke sektor produksi. Peningkatan penyaluran ke sektor produksi ini diharapkan dapat menciptakan dampak berlipat ganda terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat.
Advertisement
Sumber: AntaraNews