PLN Targetkan Nusa Penida Jadi Pulau Mandiri Energi, Kini Sudah Capai 30% Bauran EBT

PT PLN (Persero) berkomitmen kuat menjadikan Nusa Penida sebagai pulau mandiri energi bersih, dengan pengembangan EBT dan infrastruktur kendaraan listrik untuk transisi 100% energi hijau.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
PLN Targetkan Nusa Penida Jadi Pulau Mandiri Energi, Kini Sudah Capai 30% Bauran EBT
PT PLN (Persero) berkomitmen kuat menjadikan Nusa Penida sebagai pulau mandiri energi bersih, dengan pengembangan EBT dan infrastruktur kendaraan listrik untuk transisi 100% energi hijau. (AntaraNews)

PT PLN (Persero) menegaskan kembali komitmennya untuk mengubah Nusa Penida menjadi pulau yang mandiri energi bersih. Langkah ini merupakan bagian dari upaya besar dalam mempercepat transisi energi di kawasan kepulauan Bali. Inisiatif strategis ini melibatkan pengembangan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) dan persiapan infrastruktur kendaraan listrik.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Bali, Eric Rossi Priyo Nugroho, menyatakan bahwa kolaborasi erat dengan pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku usaha menjadi kunci. Sinergi ini bertujuan untuk mewujudkan 100 persen energi bersih di Nusa Penida. Target ambisius ini sejalan dengan visi Bali menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Saat ini, sistem kelistrikan Nusa Penida telah mencapai bauran EBT sebesar 30 persen dari total beban puncak 15,1 megawatt (MW). Kontribusi ini berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 4,5 MWp dan sistem penyimpanan energi BESS 3 MW. PLN terus berupaya memperkecil kesenjangan energi fosil dengan energi bersih di pulau tersebut.

PLN Perkuat Infrastruktur Energi Bersih di Nusa Penida

PLN telah menyusun Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2024-2034 yang ambisius untuk Nusa Penida. Dalam rencana tersebut, PLN menyiapkan tambahan pembangkit EBT sebesar 21,5 MW. Pembangkit ini akan berasal dari PLTS, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), dan Battery Energy Storage System (BESS).

Eric Rossi Priyo Nugroho menjelaskan bahwa proyeksi beban puncak di Nusa Penida diperkirakan mencapai 32 MW pada tahun 2034. "Dengan proyeksi beban puncak mencapai 32 MW di tahun 2034, masih ada gap sekitar 11 MW yang akan terus kami dorong untuk beralih dari energi fosil ke energi bersih,” ujar Eric. Hal ini menunjukkan komitmen kuat PLN dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Selain pengembangan pembangkit, PLN juga fokus pada infrastruktur pendukung mobilitas ramah lingkungan. Perusahaan ini sedang menyiapkan langkah pengembangan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Nusa Penida. Kehadiran SPKLU diharapkan dapat mendukung ekosistem kendaraan listrik yang berkembang di kawasan tersebut.

"Kami melihat Nusa Penida memiliki potensi besar untuk menjadi green island. PLN siap mendorong pengembangan SPKLU di sana, baik melalui inisiatif sendiri maupun kerja sama dengan mitra swasta," tambah Eric. Inisiatif ini krusial untuk mendukung mobilitas berkelanjutan di wilayah kepulauan.

Dukungan Ekosistem Kendaraan Listrik dan Kolaborasi Strategis

Pengembangan SPKLU di Nusa Penida menjadi prioritas mengingat potensi pulau tersebut sebagai "green island". Saat ini, PLN telah mengoperasikan 146 unit SPKLU di 102 lokasi di seluruh Bali daratan. Namun, untuk periode 2025–2026, penambahan SPKLU di Bali daratan belum menjadi fokus utama.

Fokus PLN kini diarahkan untuk memperluas akses energi bersih dan infrastruktur pengisian daya di kawasan kepulauan. Nusa Penida dianggap sebagai etalase penting untuk transisi energi Bali. Langkah ini juga selaras dengan komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam mempercepat penerapan energi bersih.

Upaya PLN ini turut mendukung pencapaian target Net Zero Emission 2045 yang dicanangkan pemerintah. Kolaborasi erat dengan berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan program ini. Audiensi yang diselenggarakan oleh Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali bersama PT Inako menjadi bukti nyata sinergi tersebut.

PLN hadir sebagai mitra strategis dalam audiensi tersebut, memastikan keandalan sistem kelistrikan. Selain itu, PLN juga mendukung studi kelayakan pengembangan energi bersih di Nusa Penida. Keterlibatan aktif ini menunjukkan keseriusan PLN dalam mewujudkan visi pulau mandiri energi.

Apresiasi dan Tantangan Menuju 100% EBT

Koordinator Tim Percepatan Energi Bersih Bali, Prof. Ir. Ida Ayu Dwi Giriantari, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap peran PLN. Beliau memuji konsistensi PLN dalam mendukung transisi energi di Bali, khususnya di Nusa Penida. Dukungan ini sangat vital dalam mencapai target energi bersih.

"Kami berterima kasih kepada PLN dan Inako yang telah berperan aktif dalam upaya pengembangan energi bersih di Nusa Penida," kata Prof. Ida Ayu Dwi Giriantari. Beliau juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi dalam peta jalan menuju 100 persen EBT di pulau tersebut. Tantangan utama meliputi pertumbuhan beban listrik yang sangat cepat dan keterbatasan infrastruktur.

Meskipun demikian, komitmen bersama dari PLN, pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku usaha diharapkan dapat mengatasi hambatan ini. Dengan perencanaan matang dan implementasi berkelanjutan, Nusa Penida berpotensi menjadi model pulau mandiri energi bersih yang sukses. Ini akan menjadi contoh bagi wilayah kepulauan lain di Indonesia.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi