Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) secara aktif menginisiasi upaya penguatan keberlanjutan perikanan pelagis kecil di tingkat regional. Langkah strategis ini diwujudkan melalui Forum Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC). KKP berupaya memastikan sektor perikanan ini tetap produktif dan lestari bagi seluruh negara anggota.
Inisiatif penting ini dibahas dalam APEC Workshop on Promoting Decision Support System (DSS) Using Digital Data to Support Small Pelagic Fisheries Management. Acara tersebut berlangsung di Jakarta dari tanggal 23 hingga 25 September 2025. Workshop ini menjadi platform vital untuk berbagi pengetahuan dan praktik terbaik.
Sekretaris Jenderal KKP, Komjen Pol Rudy Heriyanto Adi Nugroho, menegaskan komitmen Indonesia dalam forum ini. Tujuannya adalah memperkuat peran strategis di kawasan Asia Pasifik. Selain itu, KKP juga ingin memastikan perikanan pelagis kecil menjadi sumber pangan berkelanjutan di masa depan.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Data Digital untuk Keberlanjutan Perikanan Pelagis Kecil
Rudy Heriyanto Adi Nugroho menjelaskan bahwa inisiatif ini muncul dari kebutuhan akan pengetahuan dan praktik terbaik. Ini berkaitan dengan pengelolaan, analisis, dan pemanfaatan data perikanan. Data tersebut krusial untuk mengimplementasikan kebijakan Penangkapan Ikan Terukur (PIT) yang efektif.
"Pertemuan ini menjadi wadah penting untuk berbagi pengalaman, menyelaraskan pendekatan, serta memperkuat komitmen bersama dalam membangun kebijakan perikanan yang berkelanjutan, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi," ujar Rudy. Ia menambahkan bahwa forum ini menerjemahkan komitmen para pemimpin APEC. Hal ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama regional dan global di sektor kelautan dan perikanan.
Direktur Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan KKP, Mahrus, menekankan bahwa ikan pelagis kecil seperti sarden, kembung, dan tongkol sangat vital. Ikan-ikan ini berperan besar bagi ketahanan pangan dan mata pencarian nelayan di kawasan Asia Pasifik. Pengelolaan berbasis data digital menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan sumber daya ini.
Advertisement
Mahrus juga mengungkapkan bahwa produksi pelagis kecil di Indonesia pada tahun 2024 mencapai 2,2 juta ton. Nilai ekonominya diperkirakan mencapai Rp43 triliun. Namun, stok ikan pelagis ini rentan terhadap penangkapan berlebih (overfishing) dan perubahan lingkungan. Oleh karena itu, pengelolaan berbasis data digital merupakan langkah strategis yang tidak bisa ditawar.
Advertisement
Inovasi KKP: Sistem Pendukung Keputusan dan Ekonomi Biru
Sejak tahun 2012, KKP telah mengembangkan Decision Support System (DSS) dan sistem pendataan terintegrasi. Inovasi ini telah mendigitalisasi hampir seluruh proses bisnis perikanan tangkap. Ini menunjukkan komitmen KKP terhadap modernisasi pengelolaan perikanan.
"Interkoneksi data sistem informasi mempercepat akselerasi penerapan kebijakan perikanan tangkap yang sangat dibutuhkan dalam tata kelola perikanan tangkap,” jelas Mahrus. Digitalisasi ini memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat. Hal ini sangat penting untuk menjaga stok ikan pelagis kecil.
Selain memperkenalkan DSS, KKP juga mempromosikan penerapan lima kebijakan ekonomi biru. Kebijakan ini mencakup perluasan kawasan konservasi laut dan penangkapan ikan terukur berbasis kuota. Ini adalah langkah komprehensif untuk menjaga ekosistem laut.
Advertisement
Kebijakan ekonomi biru lainnya meliputi pengembangan akuakultur berkelanjutan, perlindungan pesisir dan pulau-pulau kecil, serta pengentasan sampah plastik di laut. Inisiatif ini menunjukkan pendekatan holistik KKP. Tujuannya adalah untuk mencapai keberlanjutan perikanan dan kelautan secara menyeluruh.
Sumber: AntaraNews