Di tengah kemegahan Istana Gyeongbokgung dan gang-gang sempit hanok tradisional yang berliku, Bukchon perlahan tapi pasti melepaskan identitas lamanya sebagai kawasan warisan budaya. Kini, kawasan ini menjelma menjadi destinasi gaya hidup dan belanja paling bergairah di Seoul, menarik perhatian wisatawan mancanegara dan pencinta tren dari seluruh dunia.
Dulu dikenal sebagai simbol sejarah dan pelestarian arsitektur Korea, Bukchon kini menjadi titik temu antara tradisi dan tren. Deretan toko parfum independen, butik fesyen bergengsi, hingga flagship store dari merek global dan lokal berbaris menghiasi jalan-jalan batu yang ikonik.
Transformasi Bukchon tak lepas dari munculnya toko-toko parfum artisan lima hingga enam tahun silam. Waktu itu, hanya segelintir perajin lokal yang berani membuka usaha di kawasan yang saat itu masih didominasi pelancong budaya.
“Parfum lokal mulai menjadi ciri khas Bukchon. Lalu merek-merek besar datang menyusul. Sekarang, pengunjung asing datang khusus ke sini hanya untuk pengalaman membeli parfum,” ujar salah satu staf dari toko parfum independen dilansir dari Korea Herald.
Kehadiran merek kenamaan seperti Tamburins yang populer di kalangan pengunjung internasional semakin memperkuat citra Bukchon sebagai surga parfum dan kecantikan.
Advertisement
Transaksi Meningkat
Menurut data waktu nyata Pemerintah Kota Seoul, pengeluaran kartu kredit di Bukchon Hanok Village melonjak dari 1,9 miliar won pada Januari menjadi lebih dari 2,57 miliar won hanya dalam beberapa bulan. Proyeksi menunjukkan angkanya bisa menembus 3 miliar won di bulan berikutnya.
Ini mencerminkan bagaimana Bukchon kini menjadi magnet ekonomi, khususnya di sektor gaya hidup dan ritel premium.
Tamburins, yang mengusung konsep desain minimalis dan pengalaman ritel yang imersif, membuka toko utamanya di Bukchon tahun 2023. Toko ini menjadi tempat “ziarah” wajib bagi penggemar drama Korea dan K-beauty.
“Saya melihat tempat ini di drama ‘Love Next Door’ dan langsung ingin datang,” ujar Giselle Roberts, wisatawan asal Inggris. “Arsitekturnya otentik, dan mengunjungi Tamburins adalah prioritas utama saya di Korea.”
Tak ketinggalan, Sulwhasoo pun membuka House of Sulwhasoo Bukchon, ruang pamer eksklusif yang memadukan hanok dan desain modern. Di sini, pengunjung tak hanya mencoba produk, tapi juga belajar sejarah merek melalui tur berbahasa Korea, Inggris, hingga Mandarin.
“Pengalamannya seperti menghadiri pameran seni, bukan sekadar belanja,” kata Dominique Rodriguez, mahasiswa pertukaran asal Meksiko.
Tidak hanya kecantikan, dunia mode juga tak mau kalah. Adidas meluncurkan Bukchon Heritage Store, toko pertamanya yang khusus menampilkan sepatu kets edisi khusus dengan sentuhan budaya Korea. Desain toko menampilkan elemen hanok dan menghadirkan produk seperti Samba Tal, reinterpretasi dari sepatu kets klasik dengan nuansa tari topeng Korea.
“Lebih dari separuh pengunjung kami adalah wisatawan asing. Ini menunjukkan Bukchon telah jadi destinasi global,” ujar Peter Kwak, Manajer Umum Adidas Korea.