Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer Gerungan, memberikan tanggapan terkait tuduhan yang menyatakan bahwa dirinya meminta 20 persen saham di PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex).
Dia menjelaskan bahwa isu tersebut adalah fitnah yang tidak memiliki dasar dan telah ia klarifikasi langsung kepada direksi serta komisaris perusahaan.
"Saya di fitnah meminta 20 persen saham di Sritex. Iya. Ya saya enggak tahu. Hal seperti itu terbuka," ungkap Immanuel saat ditemui oleh media di Jakarta, seperti yang dikutip pada Minggu, (2/2).
Immanuel menambahkan bahwa Sritex merupakan perusahaan terbuka yang beroperasi dengan standar profesional, bukan perusahaan kecil yang dapat dengan mudah terpengaruh oleh isu semacam itu. Dia juga mengonfirmasi langsung kepada Direktur Utama Sritex mengenai tuduhan tersebut.
"Itu perusahaan terbuka. Bukan perusahaan ece-ece. Dan saya sudah sampaikan dirutnya. Saya bilang ada enggak yang bawa-bawa nama saya minta saham? Dia bilang enggak ada. Nanti saya pernah minta saham ke kalian? Nggak ada juga," jelasnya.
Selain itu, ia juga meminta klarifikasi dari Presiden Komisaris Sritex dan mendapatkan jawaban yang sama, bahwa tidak ada permintaan saham Sritex yang melibatkan namanya.
"Kemudian saya tanya juga presiden komisarisnya juga. Saya mau konfirmasi. Saya bilang soal ada enggak orang-orang yang bawa nama saya minta saham? Dia bilang enggak ada. Artinya itu terkonfirmasi," tambahnya.
Immanuel menegaskan bahwa dirinya bukan tipe pejabat yang beroperasi di balik layar atau memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi. Dia mengungkapkan latar belakangnya yang berasal dari jalanan, yang membentuk karakternya yang kuat dalam menghadapi fitnah.
Menurutnya, tuduhan ini bukan hanya serangan pribadi, tetapi juga merupakan upaya untuk menjatuhkan dirinya. "Tapi sekali lagi, saya wakil menteri yang lahir dari jalanan. Perilaku jalanan saya juga terkadang bisa tidak terkontrol. Jika nemuin fitnah-fitnah begini. Artinya saya adalah ancaman memfitnah saya," tuturnya.
Advertisement
Sebelumnya, Immanuel Ebenezer Gerungan, memastikan bahwa PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) tetap beroperasi. Perusahaan yang dikenal dengan nama Sritex ini masih melanjutkan proses produksinya dan tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap karyawan.
"Kemarin kita ketemu manajemen, tetap berjalan (produksi)," kata Immanuel Ebenezer Gerungan yang dikutip dari Antara pada Jumat (31/1).
Di sisi lain, Noel menjelaskan bahwa perusahaan tekstil tersebut tetap berkomitmen untuk tidak melakukan PHK.
"Soal itu (PHK) tidak, tapi kemarin mereka berusaha ya, berusaha maksimal untuk tetap tidak adanya terjadi PHK. Dari manajemen mereka tetap pada komitmen awal mereka," ungkapnya.
Ebenezer juga menambahkan bahwa saat ini kepastian mengenai kelanjutan usaha Sritex berada di tangan kurator pailit.
"Ini domainnya itu sudah ada di kurator, bukan lagi di manajemen Sritex," jelasnya.
Wamenaker berharap agar proses keberlangsungan usaha yang sedang berlangsung ini dapat memberikan solusi yang tepat. Mengenai jumlah karyawan yang dirumahkan, pihak Kemnaker belum memperoleh informasi terbaru.
Dalam rapat kreditur terkait kepailitan PT Sri Rejeki Isman (Sritex), telah dicapai kesepakatan antara kurator dan manajemen perusahaan untuk melakukan diskusi mengenai kelanjutan usaha atau penyelesaian masalah kepailitan.
Rapat yang berlangsung di Pengadilan Niaga Semarang, Jawa Tengah, pada hari Kamis lalu, dipimpin oleh hakim pengawas Haruno Patriadi.
Dia menyatakan bahwa pihak kurator dan manajemen PT Sritex, yang kini menjadi debitur pailit, diberikan waktu selama 21 hari untuk bernegosiasi mengenai kelanjutan usaha dan penyelesaian utang kepada para kreditur.
“Ditunda untuk memberi kesempatan kurator berdiskusi dengan debitur pailit. Undangan rapat kreditur selanjutnya akan disampaikan secara tertulis oleh kurator,” ujarnya.
Denny Ardiansyah, salah satu kurator pailit PT Sritex, menambahkan bahwa mereka siap untuk melakukan diskusi dengan debitur pailit agar dapat menentukan langkah-langkah yang tepat ke depan.
Dengan adanya waktu yang diberikan, diharapkan akan ada kejelasan mengenai langkah-langkah yang akan diambil untuk menyelesaikan permasalahan ini.
Advertisement