Indonesia Ajak Negara ASEAN Tinggalkan Dolar AS

Baru-baru ini, Indonesia dan Malaysia telah resmi menggunakan mata uang masing-masing untuk bertransaksi. Malaysia menjadi negara kedua setelah Thailand yang kini meninggalkan dolar Amerika Serikat ketika bertransaksi.

Anisyah Al Faqir
Oleh Anisyah Al Faqir - Reporter
Indonesia Ajak Negara ASEAN Tinggalkan Dolar AS
dolar AS. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Pemerintah Indonesia makin giat menjalin kerja sama penggunaan mata uang lokal saat bertransaksi dengan sejumlah negara di Asia. Baru-baru ini, Indonesia dan Malaysia telah resmi menggunakan mata uang masing-masing untuk bertransaksi. Malaysia menjadi negara kedua setelah Thailand yang kini meninggalkan dolar Amerika Serikat ketika bertransaksi.

"Selain ASEAN 5 yang sudah jalan, Indonesia-Malaysia berupa rupiah dan ringgit, Indonesia-Thailand berupa rupiah-baht dan lain-lain," kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers KSSK di Kantor LPS, Kawasan SCBD, Jakarta Pusat, dikutip Selasa, (9/5).

Selain dengan 2 negara tersebut, Indonesia juga telah menjalin kerja sama serupa dengan Jepang dan China. Bahkan, belum lama ini Indonesia dan Korea Selatan juga telah menandatangani kerja sama penggunaan mata uang lokal.

Perry mengatakan, semakin cepat dan luas penggunaan mata uang lokal, manfaatnya akan segera dirasakan masyarakat. Mengingat kerja sama ini merupakan upaya regulator memfasilitasi sektor perdagangan dan investasi lewat sistem pembayaran.

Tak hanya itu, secara umum, penggunaan mata uang lokal akan mendorong stabilitas nilai tukar mata uang negara masing-masing.

"Dengan semakin luasnya penggunaan local currency, tentu saja stabilitas nilai tukar juga akan lebih terjaga dan ini juga akan lebih efisien, biaya transaksi kan lebih murah," kata Perry.

Di sisi lain, penggunaan mata uang lokal ini bisa mempermudah saat bertransaksi. Publik tak perlu lagi mengkonversi mata uang lokal ke dolar AS lalu ditukar lagi dengan mata uang negara tujuan. Berbagai transaksi bisa digunakan lewat telepon genggam (ponsel) karena menggunakan QRIS yang sudah terkoneksi dengan QR negara lain.

"Yang dulunya harus dikonversikan ke dolar, dolar ke local currency, sekarang kan tidak melalui dolar lagi. Itu yang terus dilakukan. Dan ini juga dilakukan ke berbagai negara," kata dia.

Memang, kata Perry masih banyak transaksi yang menggunakan mata uang dolar AS. Namun berdasarkan data dari IMF, penggunaan dolar untuk bertransaksi terus turun. Semula kebutuhan dolar untuk transaksi dunia mencapai 70 persen, kini kebutuhannya terus berkurang.

"Dan ini yang kita sebut diversifikasi currency yang semakin mendukung stabilitas moneter, nilai tukar, dan juga stabilitas sistem keuangan global," kata dia.

Rekomendasi