Kemenangan Argentina pada Piala Dunia 2022, sedikitnya dapat menjadi pelipur lara di tengah kondisi ekonomi yang buruk. Sebab, kemenangan Argentina dinilai tidak cukup membantu memperbaiki kondisi ekonomi negara asal Lionel Messi tersebut.
Peneliti sekaligus penulis studi dan Economics Postdoctoral Research Fellow di University of Surrey, Marco Mello mengatakan inflasi Argentina bahkan hampir mendekati 100 persen.
"Masalah ekonomi Argentina terlalu parah dan mengakar," ujar Marco dikutip melalui Deutsche Welle, Senin (19/12).
Meski demikian, euforia kemenangan atas timnas Argentina pada Piala Runia Qatar 2022 tetap memiliki harapan positif. Dari hasil penelitian yang dilakukan Universitas Surrey menunjukan, kemenangan satu negara dalam ajang piala dunia akan mengerek kinerja ekspor. Sementara konsumsi atau investasi domestik tidak mengalami perkembangan yang progresif.
"Ditemukan bahwa ada peningkatan PDB dalam dua kuartal pertama setelah kemenangan, ketika kekuatan merek negara pemenang secara signifikan meningkatkan popularitas ekspornya," demikian hasil penelitian tersebut.
Sementara itu, pada Oktober 2022, melansir dari CNBC.com, bank sentral Argentina, Banco Central de la República Argentina (BCRA) telah menaikkan suku bunga acuan negaranya hingga 550 basis poin (bps) pada 15 September 2022 lalu. Padahal tingkat inflasi per Agustus 2022 telah mencapai 78,5 persen.
Sebenarnya tingkat inflasi Argentina sudah tembus 2 digit sejak tahun lalu karena pandemi Covid-19. Kondisi ini semakin parah ketika terjadi perang di Ukraina yang dilakukan Rusia. Akibatnya nilai mata uang peso Argentina (ARS) melemah hingga 47 persen di tahun ini. Kini USD 1 hampir mencapai 150 ARS, padahal di tahun 2018 hanya ARS 4.
Tingginya permintaan dolar AS di Argentina menyebabkan terjadinya blue dolar. Artinya penukaran mata uang secara ilegal di jalanan atau tidak teregulasi dengan baik oleh bank sentral. Hal ini menunjukkan masyarakat setempat sudah tidak lagi mempercayai Peso sebagai mata uang Argentina.