Menteri Bahlil Geram, Pemerintah Selalu Disebut Menakut-Nakuti Soal Ekonomi Global

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan, ekonomi dunia sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Hal ini dibuktikan dengan adanya 28 negara lagi yang mengantre untuk mendapat bantuan dana dari Dana Moneter Internasional (IMF).

Rita
Oleh Rita - Reporter
Menteri Bahlil Geram, Pemerintah Selalu Disebut Menakut-Nakuti Soal Ekonomi Global
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia. ©2022 Merdeka.com

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan, ekonomi dunia sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Hal ini dibuktikan dengan adanya 28 negara lagi yang mengantre untuk mendapat bantuan dana dari Dana Moneter Internasional (IMF).

"Pertama persoalan covid-19, perang ukraina-rusia, persoalan baru dan sekarang sudah ada 18 negara yang sudah masuk pasien IMF, 18 naik jadi 28 negara yang sudan antre dan dampaknya kemana-mana," ujarnya dalam Rilis Survei Nasional Proyeksi Ekonomi Politik Nasional di YouTube Poltracking Indonesia, Kamis (8/12).

Dia pun menyayangkan ada pihak-pihak yang menilai pemerintah menakut-nakuti kalau kondisi ekonomi global sedang tidak baik. Baginya, informasi yang disampaikan adalah satu cara untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan.

"Pemerintah tak pernah menakut-nakuti siapapun, jadi jangan ada 1 pemikiran, persepsi bahwa ketika pemerintah menyampaikan kondisi ekonomi global itu kaitannya menakut-nakuti. Justru pemerintah menyiapkan segala sesuatu alternatif ketika kondisi-kondisi ini terjadi," paparnya.

"Tunjukan kepada saya yang bisa menjamin, pakar ekonomi siapa atau tokoh siapa yang bisa menjamin kondisi ekonomi global akan baik-baik saja? Kenapa semua lembaga dunia mengatakan bahwa ekonomi global tidak dalam kondisi yang baik-baik saja atau gelap, lembaga keuangan dunia pun menyatakan demikian dan itu ada dasarnya," sambung Bahlil.

Berbagai proyeksi dari lembaga internasional termasuk jumlah pasien IMF tadi, menurut Bahlil sudah cukup jadi bukti kalau ekonomi dunia sedang dalam kondisi krisis. Mengacu data-data tadi, Bahlil menekankan kalau itu merupakan hal yang objektif.

Dia pun meminta agar setiap pihak perlu melihat setiap sisi secara objektif. Sehingga, bisa mengambil keputusan secara bijak.

"Apakah kondisi ini kita kemudian mengatakan kondisi dunia baik-baik saja? Jangan ajak pemerintah untuk berfikir tidak objektif dong. Kadang-kadang aku bingung, kita berfikir fair dibilang nipu, Kita berfikirnya nipu dia bilang tambah tipu lagi," tegas Bahlil.

"Jadi aku tidak ngerti cara berpikir begini. Jadi menurut aku untuk jadi orang fair harus objektif begitu, tetapi indonesia punya secercah harapan dalam membawa ekonomi kesepan," tambahnya.

Dia lantas menyampaikan kalau kondisi ekonomi Indonesia masih akan terus tumbuh. Menurut Bahlil, pertumbuhan ekonomi nasional bakal lebih baik jika dibandingkan banyak negara lain. Namun, kondisi ini perlu dilanjutkan dengan aksi kepemimpinan negara dengan karakteristik yang baik. Baginya kualitas pemimpin turut menentukan nasib ekonomi Indonesia.

"Saya optimis indonesia kedepan akan baik. Dengan catatan tahun depan itu ahun politik. Saya tidak menjamin kalau pemimpin kedepan yang tidak punya legacy baik yang bisa menyelamatkan ekonomi nasional kita, ekonomi kepemimpinan, leadership," bebernya.

Reporter: Arief Rahman H.

Sumber: Liputan6.com

Rekomendasi