Ekonomi dunia sedang tidak baik-baik saja. Krisis mulai dari pangan, energi, dan keuangan tidak terhindarkan lagi.
Presiden Joko Widodo, dalam pidatonya saat pembukaan sidang tahunan, mengatakan 107 negara terdampak krisis. Sebagian di antaranya diperkirakan jatuh bangkrut.
Diperkirakan 553 juta jiwa terancam kemiskinan ekstrem, dan 345 juta jiwa terancam kekurangan pangan dan kelaparan.
"Namun, Indonesia termasuk negara yang mampu menghadapi krisis global ini," ujar Presiden Jokowi.
Inflasi juga berhasil dikendalikan di kisaran 4,9 persen. Angka ini jauh di bawah rata-rata inflasi ASEAN yang berada di sekitar 7 persen. Jauh di bawah inflasi negara negara maju yang berada di sekitar 9 persen.
"Bahkan,sampai pertengahan tahun 2022 ini, APBN juga surplus Rp106 triliun."
Selain itu, ekonomi berhasil tumbuh positif di 5,44 persen pada kuartal II tahun 2022. Neraca perdagangan juga surplus selama 27 bulan berturut-turut.
Presiden pun mengungkapkan apa yang menjadi kekuatan Indonesia dalam menghadapi gejolak ekonomi dunia ini. Berikut merdeka.com akan merangkumnya untuk pembaca.
Advertisement
1. Sumber Daya Alam
Presiden Jokowi menilai salah satu kekuatan Indonesia adalah sumber daya alam yang melimpah. Wilayah yang luas dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia menjadi kekuatan besar Indonesia, jika dikelola secara bijak dan berkelanjutan.
"Pemanfaatan kekayaan hayati laut secara bijak, akan menjadi kekuatan besar untuk produk pangan, farmasi, dan energi. Demikian pula halnya dengan perkebunan kita, antara lain kelapa sawit, yang telah terbukti menjadi pemasok terbesar CPO dunia."
Kekuatan ini wajib dioptimalkan dengan melakukan hilirisasi dan industrialisasi di dalam negeri. Tujuannya agar nilai tambahnya bisa maksimal untuk kepentingan nasional.
"Hal ini akan membuka lapangan kerja, meningkatkan ekspor, menghasilkan devisa, meningkatkan pendapatan negara, serta mendongkrak pertumbuhan ekonomi."
Advertisement
2. Jumlah Penduduk Besar
Presiden Jokowi melanjutkan kekuatan selanjutnya ialah jumlah penduduk yang sangat besar, dan didominasi oleh anak-anak muda usia produktif. Selain itu, daya beli masyarakat yang terus meningkat, akan menjadi motor penggerak perekonomian nasional dalam menghadapi kompetisi global.
"Maka dari itu, stunting harus cepat dipangkas. Layanan promotif dan preventif serta layanan pengobatan harus semakin kuat dan merata," jelasnya.
Akses anak usia didik terhadap layanan pendidikan yang berkualitas harus terus diprioritaskan. Para siswa dan mahasiswa harus dikenalkan pada dunia kerja sejak dini.
"Minat anak di bidang sains, teknologi, seni, dan olahraga harus didukung dan diapresiasi."
Advertisement
3. Kepercayaan Masyarakat Dunia
Kekuatan selanjutnya, menurut Presiden Jokowi, ialah kepercayaan internasional yang meningkat tajam. Kepercayaan besar dari masyarakat internasional juga bisa dirasakan di dalam negeri.
Di mana, hilirisasi dan manufaktur di dalam negeri terus tumbuh pesat. Pertumbuhan investasi juga meningkat tajam, di mana 52 persen di antaranya, berada di Luar Jawa.
"Artinya, ekonomi kita bukan hanya tumbuh pesat, tetapi juga tumbuh merata, menuju pembangunan yang Indonesia Sentris," jelasnya.
Maka dari itu, Presiden Jokowi menekankan perlunya reformasi struktural untuk daya saing dan iklim berusaha terus dilakukan. Ekosistem investasi dan pertumbuhan UMKM terus harus diperbaiki.