Ini Sektor Usaha Pencetak Lebih Banyak Unicorn di Masa Depan

IFSoc melihat fenomena kemunculan unicorn masih akan bermunculan di tahun-tahun yang akan datang. Saat ini, Indonesia memiliki 8 unicorn yaitu Gojek-Tokopedia (Goto), Bukalapak, Xendit, Ovo, Traveloka, J&T Ekspress, Onlinepajak dan Ajaib.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Ini Sektor Usaha Pencetak Lebih Banyak Unicorn di Masa Depan
Ilustrasi startup. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/Jirsak

Indonesia Fintech Society (IFSoc) melihat fenomena kemunculan unicorn masih akan bermunculan di tahun-tahun yang akan datang. Saat ini, Indonesia memiliki 8 unicorn yaitu Gojek-Tokopedia (Goto), Bukalapak, Xendit, Ovo, Traveloka, J&T Ekspress, Onlinepajak dan Ajaib.

"Masih akan bermunculan baik dari sektor healthtech, fintech atau edutech," kata Steering Sommittee IFSoc Rudiantara dalam konferensi pers online, Jakarta, Kamis (9/12).

Rudiantara mengatakan, unicorn sebenarnya hanya status. Salah satu hal yang perlu dinilai dari keberadaan unicorn adalah proses atau model bisnis yang diterapkan.

"Apakah masih 'bakar uang' atau ada yang fokus pada cashflow," katanya.

Rudiantara melanjutkan, saat ini fenomena bakar uang perlahan ditinggalkan. Perusahaan berlomba menciptakan agar bisnis berjalan dengan baik serta menghasilkan profit.

"Yang saya amati, investor sekarang sudah mulai fokus ke cash flow," katanya.

Mendag Soal Unicorn: Indonesia Jangan Senang Dulu, yang Kuasai Masih Singapura

Indonesia kini tercatat memiliki banyak start-up unicorn. Namun ternyata, Singapura masih memimpin kepemilikan perusahaan rintisan dengan nilai kapitalisasi lebih dari USD 1 miliar.

"Jangan senang dulu. Kalau kita lihat siapa yang menguasai dari pada unicorn-unicorn ini? bukan Indonesia, yang kuasai itu sebenarnya Singapura," ujar Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, Jakarta, Jumat (19/11).

Dia mengatakan, Indonesia memang memiliki Gojek dan Tokopedia sebagai start-up raksasa, tetapi Singapura masih mendominasi ekonomi digital di Asia Tenggara. Meski negara itu memiliki penduduk yang lebih kecil.

"Sebenarnya yang terbesar-terbesar mereka itu datangnya dari Singapura, rakyat 5 juta tetapi menguasai ekonomi digital di Asia Tenggara," jelas Lutfi.

Lutfi menjelaskan, GDP Indonesia saat ini sekitar Rp15.400 triliun atau setara USD1,1 triliun. Pertumbuhannya diperkirakan mencapai 1,5 kali lipat akhir 2030, yakni antara Rp24.000 triliun sampai Rp30.000 triliun.

Sementara itu, nilai ekonomi digital yang diperkirakan akan tumbuh dari Rp632 triliun menjadi Rp4.531 triliun. Angka tersebut tumbuh 800 persen dalam 9 tahun ke depan.

"Dan kalau kita lihat apa saja pertumbuhan dari ekonomi digital? Yang pertama yang terbesar adalah e-commerce, e-commerce akan merajai kira-kira USD120 billion atau setara dengan Rp1.900 triliun," terangnya.

Ekonomi digital Indonesia juga akan terus menanjak, bahkan tumbuh 8 kali lipat menjadi USD 323 miliar. Apabila tercapai, Indonesia akan menjadi 6 kali lebih besar dari Malaysia, 7 kali lebih besar daripada Filipina, 9 kali lebih besar dari Singapura, dan menjadi 4 kali lebih besar dari Vietnam.

Rekomendasi