PT Pupuk Indonesia dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) menandatangani MoU dalam memajukan program Makmur. Kerja sama ini untuk mengedepankan penyerapan subsidi secara tepat, sehingga bisa meningkatkan ekonomi rakyat.
Direktur Utama BRI, Sunarso menyebut, langkah penandatanganan Nota Kesepahaman ini sebagai langkah mengurangi porsi subsidi pertanian, terutama pupuk. Menurutnya, program ini sebagai langkah untuk mengevaluasi program yang berjalan.
"Ini MoU menurut saya bagus, paling tidak sadarkan kita untuk evaluasi, apakah efisien dan efektif subsidi kita. Sebaiknya subsisdi kita di input atau output," kata Sunarso di Jakarta, Kamis (30/9).
Dia menjelaskan, selama ini pemerintah memberikan subsidi melalui metode input. Di mana berbentuk subsidi benih, subisidi pupuk, bantuan traktor untuk olah tanah, dan lain-lain.
Namun, lewat program ini, pemerintah akan mencoba pemberian subsidi lewat metode output. Di mana pemerintah membayar sekian rupiah dari tiap kilo produksi petani, dengan penyaluran langsung ke petani, melalui kelompok tani atau Gapoktan.
"Atau biarkan saja orang melalui produksi ikuti mekanisme pasar tapi berapa pun produksinya harus diserap dengan harga menggairahkan maka itu artinya subsidi ditaruh di output. Kita belum pernah coba," tuturnya.
Dengan adanya program Makmur, pemerintah akan menguatkan sektor pertanian sehingga bia bersaing dan ikut mekanisme pasar. Artinya, penyerapan pupuk nonsibsidi bisa meningkat.
"Barangkali ada missing link antara satu sekuen dan sekuen lain. Kalau ekosistem benar, maka dia kuat. Kalau dia kuat di pasar, itu approachnya commercial base," katanya.
"Kami komitmen dengan Pak Bakir sehingga mudah-mudahan ekosistem bisa kita bangun. Tidak usah muluk-muluk, satu ekosistem beras atau holtikultura di satu tempat saja dulu. Nanti sukses baru direplika. Baru kita bisa tancapkan bendera, ini loh kami di bawah Kementerian BUMN bisa melepaskan petani dari ketergantungan subsidi dan mandiri, dan bisa di approach lembaga keuangan karena sudah sudah fully commercial base," tukasnya.
Program Makmur ini dijalankan oleh anak perusahaan Pupuk Indonesia, mulai dari PT Pupuk Iskandar Muda, PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Petrokimia Gresik, dan PT Pupuk Kujang Cikampek. Pada tahun 2021, target luasan lahan Program Makmur seluas 50 ribu hektare.
Adapun, komoditas yang menjadi fokus program ini yakni padi, jagung, cabai, kelapa sawit, singkong, kopi, lada, kakao, bawang merah, tebu, tembakau, nanas, dan manggis. Realisasi program Makmur hingga saat ini, secara nasional telah mencapai 40.332 hektar dan melibatkan 28.884 petani.
Reporter: Arief Rahman H.
Sumber: Liputan6.com