Transisi energi di Indonesia dinilai penting dan harus segera direalisasikan. Isu lingkungan, terutama perubahan iklim menjadi urgensi dalam transisi energi ini. Dampaknya juga akan terasa di sisi ekonomi terutama bagi negara berkembang yang masih tergantung energi fosil.
Laporan International Energy Agency (IEA) menunjukkan, tren investasi di pembangkit termal utamanya PLTU batubara mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
"Ini perlu dicermati, terutama dalam pembahasan RUPTL sekarang, pemerintah atau PLN masih mau membangun PLTU dalam 10 tahun mendatang, 2021-2030," ujar Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa dalam konferensi pers daring, Senin (25/).
Kata Fabby, penurunan ini akan membawa banyak persoalan ke depan. Bukan hanya dari sisi lingkungan, yang mana akan menghasilkan emisi gas rumah kaca dengan jumlah lebih banyak, namun dari sisi pembiayaan juga akan semakin sulit.
Investor, dalam jangka panjang telah berencana untuk menanamkan modalnya pada sektor energi baru terbarukan (EBT), apalagi untuk negara maju yang memang sudah mencanangkan EBT sejak lama seperti Eropa.
"Karena pembiayaan jadi sulit, maka energi tersebut tidak akan murah dan mudah lagi," ujar Fabby.
Tahun lalu, beberapa investor dari Jepang dan Korea sudah menyatakan tidak akan terlibat dalam pembangunan PLTU baru di negara berkembang. Padahal China, Jepang dan Korea adalah sponsor utama pembangunan PLTU di Indonesia.
"Ke depan, ini perlu upaya shifting dengan fokus pad EBT karena dari sisi investasi, resiko dan ketersediaan pendanaannya lebih banyak, baik saat ini maupun di masa yang akan datang," ujar Fabby.
Reporter: Athika Rahma
Sumber: Liputan6.com