Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air rute Jakarta - Pontianak dengan kode penerbangan SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu menjadi beban tambahan bangkitnya industri penerbangan di masa pandemi Covid-19. Sebab, jatuhnya pesawat tersebut bisa berdampak langsung kepada kondisi psikologis masyarakat.
"Penerbangan ini kena dua kali, sebelumnya karena covid-19 dan sekarang ditambah kejadian naasnya Sriwijaya Air," kata Ekonom Indef, Enny Sri Hartati saat berbincang dengan merdeka.com, Jakarta, Senin (11/1).
Meski bukan peristiwa yang pertama, namun jatuhnya kabar jatuhnya pesawat ini bisa menimbulkan trauma temporer atau sementara di masyarakat. Namun, seiring berjalannya waktu, kekhawatiran tersebut perlahan akan hilang.
"Kalau baru beberapa waktu memang akan membuat masyarakat jadi parno, tapi kalau sudah agak lama, ini bisa hilang," kata dia.
Di sisi lain, Enny menyarankan pemerintah sebaiknya harus memikirkan kembali kebijakan pembukaan destinasi wisata. Khususnya yang menggunakan jasa transportasi udara.
Alasannya, promosi libur natal dan akhir tahun lalu justru membuat kondisi penanganan Covid-19 menjadi berantakan. Peningkatan volume penumpang pesawat yang diharapkan malah sebaliknya atau menyebabkan rendahnya penumpang usai liburan akibat naiknya angka positif Covid-19.
"Momen libur natal dan tahun baru ini kan sebelumnya dianggap sebagai momentum supaya bisa recovery, tapi malah jadi kontradiktif kan," kata dia.
Akibatnya industri jasa penerbangan kini tak mampu menjaga momentum pemulihan. Padahal seharusnya tetap mempertahankan kondisi yang ada, asalkan masih tetap bisa beroperasi. Sehingga operator bisa menyesuaikan dengan mengurangi jam terbang saja.
"Pembukaan liburan natal dan tahun baru ini malah merugikan maskapai sendiri. Kalau kemarin tidak peningkatan tapi tetap ada penumpang walau itu flat," kata dia mengakhiri.