Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kristrianti Puji Rahayu, memaparkan beberapa strategi literasi dan edukasi keuangan di tahun 2020. Salah satunya adalah membuatkan buku seri literasi keuangan tingkat Pendidikan Usia Dini (PAUD).
"Ibarat memori yang ada di komputer, anak-anak PAUD itu punya banyak 'memori' kosong di otaknya. Jadi, hal ini bisa kita manfaatkan untuk mengenalkan mereka tentang keuangan secara sederhana. Spending, saving, sharing," jelas Kristrianti dalam sesi siaran langsung yang diselenggarakan OJK, Rabu (19/8).
Seri buku literasi yang memanfaatkan cerita dalam bentuk fabel ini juga dibuat untuk menumbuhkan kesadaran anak-anak akan pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan. "Jadi, kami pakai perumpamaan-perumpamaan mengenai kehidupan hewan yang sesuai dengan kehidupan anak-anak pada umumnya. Misalnya, ada hewan yang ingin membeli ayunan, maka ia menabung," jelasnya.
Selain literasi soal keuangan, OJK juga melakukan inisiasi program inklusi keuangan bagi anak-anak bernama Simpanan Pelajar (SimPel). Tujuannya untuk membentuk budaya dan karakter menabung dan melakukan pengelolaan uang sejak dini.
"Uang pastinya tidak cuma ditabung semua dan tidak di-spending semua juga. Misalnya, 10 persen untuk bersosialisasi, 40 persen untuk konsumsi, 20 persen investasi, dan 30 persen untuk bayar utang," ujar Kristrianti.
Dia meyakini jika dari kecil anak-anak sudah diajarkan, ke depannya, Indonesia akan memiliki generasi yang berwawasan soal mengatur keuangan yang baik, bahkan bisa cerdas investasi.
Reporter Magang: Theniarti Ailin
Advertisement
OJK Dorong Pelajar TK Bisa Menabung Mulai dari Rp 5.000
Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kristianti Puji Rahayu, membeberkan langkah-langkah meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat, salah satunya dengan menggencarkan anak-anak sekolah untuk menabung. Dirinya mengatakan, budaya menabung harus dilakukan melalui optimalisasi beberapa aspek, utamanya aspek infrastruktur.
"Kita edukasi literasi sampai capek kalau infrastrukturnya tidak memudahkan, tetap susah, sehingga yang perlu dilakukan adalah, how to make it convertible dan convenient, baik di sekolah maupun PUJK (Pelaku Usaha Jasa Keuangan)," kata wanita yang akrab disapa Puji ini.
Maka dari itu, melalui program SimPel (Simpanan Pelajar), OJK ingin mendorong agar pelajar mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) bisa menabung di bank dengan setoran awal hanya Rp 5.000 saja.
OJK juga gencar melakukan institutional leadership di beberapa sekolah, contohnya di Pesantren Darul Arafah di Deli Serdang, Sumatera Utara dan SMK Yadika di Soreang, Bandung, Jawa Barat.
Dalam sosialisasi tersebut, selain memberikan goody bag, OJK juga memberikan rekening SimPel dengan sejumlah saldo awal untuk mengawali kebiasaan menabung. "Dan ini juga bagi PUJK sebagai sarana OJK untuk memberikan gesture bahwa ini institutional leadership untuk kita melakukan literasi dan inklusi kepada adik-adik," katanya.
Puji melanjutkan, menabung juga tidak bisa dilakukan secara berlebihan atau excessive, namun harus berpatokan pada pakem-pakem yang telah ditentukan. "Spending (belanja) 40 persen, kebutuhan sosial 10 persen, leverage 30 persen dan investasi 20 persen, sehingga balance. Yang harus ditekankan, spending tetap dilakukan tapi harus dibentuk karakter anak secara dini sehingga nanti ketika Indonesia memiliki bonus demografi, anak-anak sudah cerdas mengatur keuangan," katanya.
Reporter: Athika Rahma
Sumber: Liputan6