Strategi ABM Investama Jaga Kesehatan Keuangan di Tengah Pandemi Corona

ABM Investama beserta anak usaha gencar menambah kontrak pertambangan batubara untuk meningkatkan volume produksi di sektor energi. Model bisnis melalui sinergi anak usahanya yang terintegrasi dari pertambangan hingga perdagangan menjadi strategi kunci perusahaan untuk menjaga keuangan di tengah pandemi virus corona.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Strategi ABM Investama Jaga Kesehatan Keuangan di Tengah Pandemi Corona
Ilustrasi pertambangan. ©‚©shutterstock.com/Adam Michal Ziaja

ABM Investama beserta anak usaha gencar menambah kontrak pertambangan batubara untuk meningkatkan volume produksi di sektor energi. Model bisnis melalui sinergi anak usahanya yang terintegrasi dari pertambangan hingga perdagangan menjadi strategi kunci perusahaan untuk menjaga keuangan di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

"Kami akan terus meningkatkan penerapan mining value chain, dengan melaksanakan sinergi antar anak usaha dan fokus ke pengoptimalan produtivitas anak perusahaan, dalam mengantisipasi perlambatan ekonomi tahun ini," ujar Direktur Utama ABM Investama, Andi Djajanegara, di Jakarta, Kamis (18/6).

Andi terus memacu pertumbuhan yang sehat dari seluruh entitas anak usahanya, seperti menambah kontrak pertambangan melalui anak usaha PT Cipta Kridatama (CK), meningkatkan volume produksi batu bara melalui anak usaha PT Reswara Minergi Hartama (Reswara), serta meningkatkan cadangan batubara dengan menambah masa konsesi.

Pada 15 Juni 2020, CK selaku anak usaha di bidang kontraktor jasa pertambangan kembali meraih kontrak kerjasama dengan durasi seumur tambang (life of mine) dari PT Berkat Murah Rejeki (BMR) yang berlokasi di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.

Dalam kontrak kerjasamanya, CK akan membantu penambangan untuk pengupasan lapisan tanah (overburden removal) dan penyewaan alat berat, dalam mencapai target volume sekitar 12,6 juta bank cubic metre (BCM).

Sebelumnya, pada awal 2020, CK juga telah mendapatkan kontrak life of mine dari PT Kuansing Inti Makmur senilai Rp 7,4 triliun. Sementara pada tahun lalu, CK mengantongi kontrak kerjasama seumur tambang dari PT Multi Harapan Utama senilai USD 337 juta dan PT Binuang Mitra Bersama senilai Rp 8 Triliun.

Andi menjelaskan, melalui strategi mining value chain dengan mensinergikan bisnis anak usaha, membuat kinerja perusahaan masih terkelola dengan baik di level positif.

"Kami optimistis, sejumlah kebijakan strategis yang telah kami siapkan, grup ABM dapat melewati dinamika dan tantangan perlambatan ekonomi nasional dan global tahun ini," tutup Andi.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com

Rekomendasi