Direktur Keuangan dan Operasional BNI Syariah, Wahyu Avianto mengatakan, pihaknya telah melakukan stress test atau uji daya tahan di tengah pandemi Virus Corona. Dari hasil stress test, BNI Syariah optimis masih kuat menghadapi tantangan dan resiko pasar.
"Kita sudah membuat stress test ke BNI Syariah. Kalau kita lihat secara risiko likuiditas, BNI Syariah masih kuat, tak ada masalah. demikian juga dengan risiko pasar," ujarnya dalam diskusi daring, Jakarta, Kamis (28/5).
Wahyu mengatakan, pihaknya membuat 3 skenario dalam melakukan stress test dari kondisi ringan, sedang hingga berat. Namun diakui, dari tiga skenario tersebut pembiayaan menjadi sektor yang paling banyak terpengaruh.
"Mungkin kita akan kena di risiko pembiayaan. Kita sudah membuat simulasi untuk skenario ringan, sedang dan berat. Sampai saat ini dampaknya masih ringan dan sedang. Perkiraan kami, NPF masih bisa di bawah 4 persen," katanya,
Secara tahunan dia memprediksi, laba perusahaan tidak akan tercapai seperti yang sudah ditargetkan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) pada awal tahun sebelum Virus Corona masuk ke Indonesia. Meski demikian, perusahaan optimis masih mendapat untung.
"Laba tak bisa mencapai target yang kita canangkan dalam RBB, tapi masih menghasilkan keuntungan yang cukup lah bagi perusahaan tergantung seberapa lama efek Covid-19 ini terjadi," tandasnya.
Advertisement
Direktur Utama BNI Syariah, Abdullah Firman Wibowo, mengungkapkan pihaknya mampu meraup laba Rp214 miliar pada kuartal I 2020. Angka ini tumbuh 58,1 persen dibanding capaian Rp135,35 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
"Memang secara bottom line dampak dari covid-19 belum begitu terasa. Tapi kami sudah mengantisipasi di kuartal-kuartal berikutnya tentu dampak ini akan terasa baik secara bisnis maupun kualitas aset," kata Abdullah dalam Konferensi Pers Kinerja BNI Syariah TW1 Tahun 2020, Kamis (28/5).
Sementara, terdapat peningkatan aset 16,2 persen menjadi Rp51,1 triliun dibandingkan Maret 2019 yang senilai Rp44 triliun atau hanya sekitar 14,2 persen. Kemudian modal juga naik menjadi 18,5 persen dari sebelumnya hanya 12,2 persen. Begitupun dengan setoran modal inti per Maret juga naik, semula dari Desember hanya Rp4,5 triliun menjadi Rp5 triliun per Maret 2020.
"Kita bisa mencapai modal Rp5 triliun ini karena faktor fundamental kita memiliki kinerja yang cukup baik, mudah-mudahan dampak ini bisa kita minimalis sehingga sampai akhir tahun kita bisa making profit. Harapan kami seperti itu," ujarnya.