Virus Corona Pukul Pariwisata RI, Bank Dunia Ramal Dampak ke Pertumbuhan Tak Besar

Direktur Pelaksana Bank Dunia, Mari Elka Pangestu, mewanti-wanti dampak penyebaran virus corona terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini. Sebab, jika ekonomi China terkoreksi maka akan menghantam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dwi Aditya Putra
Oleh Dwi Aditya Putra - Reporter
Virus Corona Pukul Pariwisata RI, Bank Dunia Ramal Dampak ke Pertumbuhan Tak Besar
mari elka pangestu. merdeka.com

Direktur Pelaksana Bank Dunia, Mari Elka Pangestu, mewanti-wanti dampak penyebaran virus corona terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini. Sebab, jika ekonomi China terkoreksi maka akan menghantam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Karena setiap 1 persen penurunan pertumbuhan ekonomi Tiongkok itu menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi kita sebesar 0,3 persen menurut makro model yang pernah dilakukan hitungannya," kata dia di temui di Jakarta, Rabu (5/2).

Ekonom senior ini mengatakan sejauh ini dampak yang sudah kelihatan betul yakni di sektor pariwisata. Meskipun secara persentase sektor pariwisata ke Produk Domestik Bruto (PDB) tidak begitu besar, yakni sekitar 4 persen.

"Jadi mungkin dari segi dampak kepada pertumbuhan langsung, dampak dari tourism mungkin akan ada tapi tidak terlalu besar," kata dia.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui, virus corona menjadi tantangan utama Indonesia dalam mengawali tahun. Bahkan, adanya virus ini diperkirakan akan berdampak terhadap ekonomi Indonesia hingga 0,29 persen.

"Konsensus mengatakan virus corona bisa mempengaruhi perekonomian kita sebesar 0,1 persen hingga 0,29 persen," ujarnya di Jakarta.

Menko Airlangga mengatakan pengaruh virus corona cukup besar terhadap ekonomi RI dikarenakan hubungan perdagangan dan pariwisata antara kedua negara cukup erat. Tak hanya itu, ekonomi China juga akan terkoreksi hingga mencapai 2 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2019 sebesar 5,02 persen. Pertumbuhan tahun lalu melambat dibandingkan periode 2018 sebesar 5,17 persen dan 2017 sebesar 5,07 persen.

"Mempertahankan lima persen dalam situasi sekarang tidak gampang. Saya pikir 5,02 persen yang menunjukkan pelemahan ini, sudah cukup baik," ujar Kepala BPS, Suhariyanto, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (5/2).

Rekomendasi