Yayasan Batik Indonesia kembali menyelenggarakan Gelar Batik Nusantara (GBN). Pameran ini merupakan upaya yang dilakukan untuk mempromosikan dan mengembangkan Batik Indonesia.
Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, mengatakan salah satu tantangan industri batik dalam negeri terdapat pada desain. Sebagai produk yang bertalian dengan gaya hidup, desain batik tentu mesti selalu dapat beradaptasi dengan keinginan masyarakat.
"Tantangan tentu desain. Namanya lifestyle tergantung pada desain dan selera dari publik," kata dia saat ditemui, di JCC, Jakarta, Rabu (8/5).
Meskipun demikian, dia optimistis tantangan tersebut dapat diatasi. Sebab, saat ini sudah cukup banyak kreasi desain yang dilakukan oleh pelaku industri batik.
"Kita lihat banyak batik yang sudah bisa menciptakan desain modern. Artinya dari segi warna, desain, juga campur dengan tenun, campur dengan embroidery, ini sulaman itu hal yang sangat baik," ujarnya.
Terkait ekspor, Menteri Airlangga mengatakan bahwa tahun ini pihaknya menargetkan nilai ekspor batik dapat mencapai USD 60 juta. Pada 2018, nilai ekspor batik mencapai USD 52,44 juta.
"Ekspor batik tentu mempunyai pasar yang cukup besar. Mendekati USD 60 juta per tahun. Ini kita dorong. Kalau ini biasanya kita targetkan USD 6-8 persen pertumbuhan. Untuk batik saja. Tapi kalau kita bicara dengan tenun dan lainnya," ungkap Menteri Airlangga.
Sebagai informasi, pameran yang mengusung tema 'Lestari Tak Berbatas' ini menargetkan jumlah transaksi sebesar Rp 27,5 miliar selama 5 hari pelaksanaan. Sementara, jumlah pengunjung ditargetkan mencapai 13.000 orang.
"Tentu kita lihat antusiasme masyarakat ke depan. Selama ini pameran batik yang diselenggarakan di tempat ini, animo masyarakat bagus," tandasnya.