Mensos Ingin Milenial Tetap Hidupkan Nuansa Lokal di Tengah Gempuran Teknologi

Teknologi menggeser aktivitas mereka yang awalnya dilakukan di dunia nyata ke dunia maya. Implikasi sosialnya, ada kecenderungan kalangan generasi milenial menjadi asosial karena asik berkutat dengan gawai yang menyediakan banyak hal secara cepat.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Mensos Ingin Milenial Tetap Hidupkan Nuansa Lokal di Tengah Gempuran Teknologi
Mensos Agus Gumiwang. ©2018 Merdeka.com

Menteri Sosial RI, Agus Gumiwang Kartasasmita mengajak generasi milenial untuk menjadi pelopor perdamaian, pelopor aktualisasi nilai-nilai Kearifan Lokal dalam kehidupan sehari-hari. Harapannya, kelak bangsa Indonesia akan lebih besar dan berjaya.

Menurutnya, di era milenial ini, penetrasi dampak globalisasi menjadi semakin kuat seiring semakin meningkatnya kemajuan teknologi informasi. Berkat revolusi teknologi informasi dewasa ini, informasi begitu mudah diakses oleh semua orang dan mengubah perilaku generasi muda yang lahir dari tahun 1980.

"Merekalah yang kita kenal sebagai generasi milenial, generasi yang tumbuh di tengah-tengah era globalisasi," tutur Mensos di Jakarta.

Dia mengatakan, arus globalisasi dan teknologi informasi yang sangat cepat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap cara pandang, budaya, dan gaya hidup di kalangan generasi milenial saat ini. Karakteristik generasi milenial sendiri mungkin berbeda-beda ditentukan oleh daerah dan kondisi sosial-ekonomi. Namun, secara umum karakter mereka dibentuk oleh keakraban mereka dengan teknologi.

Teknologi menggeser aktivitas mereka yang awalnya dilakukan di dunia nyata ke dunia maya. Implikasi sosialnya, ada kecenderungan kalangan generasi milenial menjadi asosial karena asik berkutat dengan gawai yang menyediakan banyak hal secara cepat. Perilaku asosial menyebabkan generasi milenial tidak lagi akrab dengan seni dan budaya lokal.

"Hal yang bernuansa lokal seakan menjadi sesuatu yang usang atau ketinggalan zaman. Kondisi tersebut menyisipkan pesan tentang pentingnya kearifan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi agar kemampuan untuk bersosialisasi dan beradaptasi dengan budaya lokal tidak tumpul," kata Mensos yang berafiliasi dengan Kemenko PMK tersebut.

Dikatakan Mensos, kearifan lokal merupakan salah satu pembentuk identitas bangsa Indonesia dan generasi milenial adalah penerus bangsa. "Kearifan lokal yang sejak dulu menjadi identitas bangsa jangan sampai terkikis oleh budaya global yang masuk seiring berkembangnya kemajuan teknologi," tuturnya.

Dikatakan Mensos, kearifan lokal di Indonesia merupakan salah satu pilar penting bagi terciptanya harmoni hubungan antarmasyarakat, termasuk dalam pemanfaatan sumber daya alam agar tidak menimbulkan konflik sosial. "Di Maluku kita mengenal tradisi Pela Gandong yang merupakan ikatan persatuan dengan saling mengangkat saudara antara satu dengan lainnya. Pada masyarakat Luwu di Sulawesi terdapat tradisi Tudang Sipulung Manre Saperra yaitu duduk bersila bersama menyantap makanan sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur kepada yang Maha Kuasa, sambil menumbuhkan keyakinan tali persaudaraan yang harmonis, sehingga kebersamaan tersebut dapat menjadi landasan untuk membangun masyarakat yang sejahtera."

Sementara itu, Di Minangkabau dikenal Tungku Tigo Sajarangan yang merupakan model kepemimpinan yang menjadi perekat harmoni kehidupan masyarakat. Masyarakat Dayak di Kalimantan Barat mengucapkan salam pembuka dengan kalimat 'Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata” yang bermakna persaudaraan satu sama lain meskipun tidak saling kenal. Masyarakat Sunda memiliki tradisi Beas Perelek dan filosofi silih asah, silih asih, dan silih asuh, sementara masyarakat Bugis memiliki ungkapan 'mali si parappe, rabha si patokkong'.

"Indonesia memiliki simpul kearifan-kearifan lokal yakni Pancasila. Nilai-nilai Pancasila yang telah ada sejak dulu harus terus diimplementasikan sebagai dasar berperilaku masyarakat Indonesia. Jika kita yakin nilai-nilai Pancasila dapat mengantar kita menuju kemajuan bangsa dan nasional, maka secara konsisten kita harus mengamalkan seluruh sila Pancasila," katanya.

Rekomendasi