Ini alasan industri mamin RI masih impor bahan baku kemasan

Industri makanan dan minuman dalam negeri saat ini masih mengandalkan produk impor untuk bahan baku kemasan plastik dan botol yaitu PET. Padahal, produksi PET dalam negeri cukup melimpah bahkan ekspornya lumayan tinggi.

Yayu Agustini Rahayu
Oleh Yayu Agustini Rahayu - Reporter
Ini alasan industri mamin RI masih impor bahan baku kemasan
Botol plastik. ©2012 Merdeka.com

Industri makanan dan minuman dalam negeri saat ini masih mengandalkan produk impor untuk bahan baku kemasan plastik dan botol yaitu PET. Padahal, produksi PET dalam negeri cukup melimpah bahkan ekspornya lumayan tinggi.

Juru bicara Forum Lintas Asosiasi Industri Makanan dan Minuman (FLAIMM), Rachmat Hidayat mengatakan saat ini para pelaku industri juga memakai PET produksi dalam negeri, namun tidak mencukupi. Padahal, kontribusi PET dalam bahan baku makanan dan minuman cukup besar sehingga PET mutlak harus dipenuhi kebutuhannya.

"Kebutuhan PET 200.000 ton per tahun 55 hingga 60 persen masih harus diimpor. Harga impor itu ikuti harga dunia kisaran USD 1.600 per ton," kata Rachmat dalam sebuah acara diskusi di Kawasan SCBD, Jakarta, Kamis (19/4).

Akibatnya, para pelaku industri dalam negeri terpaksa harus melakukan impor sebab PET produksi dalam negeri sebagian besar justru malah diekspor dengan harga jauh lebih murah dengan harga beli PET impor.

"Logikanya, kami tidak akan impor kalau ada di dalam negeri, kalau kualitas dan harganya relatif sama. Tapi pertimbangan membeli tidak hanya harga, tapi juga kualitas lalu juga kepastian keandalan."

Rachmat mengungkapkan produsen PET dalam negeri menjual PET kepada mereka dengan harga yang sama dengan PET impor yakni USD 1.600 per ton. Sementara mereka mengekspor PET produksi mereka ke luar negeri dengan harga yang jauh lebih murah kisaran USD 1.300 per ton.

Rachmat mengungkapkan, produksi PET dalam negeri mencapai 449.000 ton. Angka tersebut harusnya mampu mencukupi kebutuhan PET dalam negeri sebesar 200.000 ton.

"Sementara kami masih harus mengimpor 55-60 persen berarti ya sekitar 120.000, mayoritas impor. Berarti dari 449.000 ton mayoritas diekspor, PET Indonesia raksasa dunia."

Rekomendasi