China Development Bank (CDB) sepakat menyalurkan pinjaman sebesar USD 4,5 miliar kepada PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) guna mengakselerasi konstruksi kereta cepat Jakarta-Bandung. Pinjaman itu setara 75 persen dari total investasi yang dibutuhkan, sekitar USD 6 miliar, untuk merealisasikan megaproyek transportasi berbasis rel sepanjang 140 kilometer tersebut
Seperti diberitakan Nikkei Asian Review, kemarin, penandatanganan dokumen kesepakatan dilakukan di sela-sela kunjungan Presiden Joko Widodo ke Beijing, 13-14 Mei lalu. Di sana, kepala negara menghadiru Konferensi Tingkat Tinggi One Belt One Road (OBOR).
Direktur Utama Wijaya Karya (Wika) Bintang Perbowo mengatakan, pinjaman bakal cair paling cepat Juni mendatang. Menurutnya, struktur pinjaman tetap 60 persen berdenominasi dolar AS dan sisanya yuan.
"Berbagai persyaratan sudah cocok, tinggal menyampaikan sedikit dokumen," katanya.
Wika adalah pemegang saham terbesar, 38 persen setara Rp 1,710 triliun, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Saham tersisa dimiliki PTPN VIII dan KAI, masing-masing 25 persen atau senilai Rp 1,125 triliun, dan Jasa Marga 12 persen atau Rp 540 juta.
Adapun PSBI adalah penguasa 60 persen saham KCIC. Sedangkan 40 persen saham tersisa dipegang China Railway International Co.
Pembangunan megaproyek yang sudah di-groundbreaking Januari tahun lalu tersebut sempat tertatih lantaran terkendala pembebasan lahan dan perizinan. Kendati demikian, kontraktor tetap optimistis, proyek tuntas 2019.