Harga Nikel Berpotensi Melejit Dipicu Konflik Timur Tengah

Penggunaan baterai kendaraan listrik yang semakin banyak mengadopsi teknologi berbasis lithium turut mengurangi permintaan terhadap nikel sehingga memperbesar penumpukan pasokan.

Tira Santia
Oleh Tira Santia - Reporter
Harga Nikel Berpotensi Melejit Dipicu Konflik Timur Tengah
<p>Ilustrasi bijih nikel. (Deon/Liputan6.com)</p>

Harga nikel dunia berpotensi melanjutkan penguatan dan bahkan menembus level USD 18.000 per ton apabila ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus memanas. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran dinilai mulai memengaruhi rantai pasok bahan baku industri nikel, terutama sulfur yang menjadi komponen penting dalam proses pengolahan bijih nikel.  

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, kenaikan harga nikel mulai terlihat pada perdagangan Kamis (16/7), setelah sebelumnya logam tersebut mengalami tekanan cukup panjang akibat kelebihan pasokan (oversupply) di pasar global. 

"Nikel kemarin (Kamis 16 Juli 2026) mengalami penguatan, yang kita tahu bahwa nikel ini terjadi over supply akibat mobil listrik yang saat ini menggunakan lithium sehingga terjadi penumpukan nikel yang cukup banyak dan membuat harga nikel mengalami penurunan," kata Ibrahim dalam keterangannya, Sabtu (18/7). 

Ibrahim menjelaskan, dalam beberapa waktu terakhir harga nikel terpuruk karena kondisi oversupply. Di sisi lain, penggunaan baterai kendaraan listrik yang semakin banyak mengadopsi teknologi berbasis lithium turut mengurangi permintaan terhadap nikel sehingga memperbesar penumpukan pasokan.

Meski demikian, menurutnya tren tersebut mulai berubah. Penguatan harga yang terjadi pada Kamis menjadi sinyal bahwa pasar mulai kembali memberikan sentimen positif terhadap komoditas tersebut. 

Ia memperkirakan penguatan harga nikel masih berpotensi berlanjut dalam beberapa pekan mendatang apabila faktor geopolitik tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar. 

"Tetapi kemarin nikel sudah mengalami kenaikan, dan kemungkinan besar di minggu-minggu depanpun masih akan mengalami kenaikan, karena adanya penurunan permasalahan di Timur Tengah yang kembali memanas antara Amerika dan Iran di Selat Hormuz," ujarnya. 

Konflik Timur Tengah Ganggu Pasokan Sulfur

 

Menurut Ibrahim, kenaikan harga nikel saat ini bukan semata dipengaruhi oleh permintaan, melainkan juga terganggunya pasokan sulfur yang digunakan sebagai bahan dasar dalam proses pemasakan bijih nikel.

Ia mengatakan, memanasnya kembali konflik di Timur Tengah, khususnya terkait ketegangan Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz, berpotensi menghambat distribusi sulfur dari kawasan tersebut. 

Apabila pasokan sulfur dari Timur Tengah terganggu, produsen nikel harus mencari pasokan dari negara lain. Kondisi tersebut akan meningkatkan biaya logistik dan biaya produksi, sehingga mendorong kenaikan harga nikel di pasar internasional. 

"Kalau seandainya sulfur dari Timur Tengah ini terhambat maka harus mengambil dari negara lain yang transportasinya akan lebih mahal lagi dan biaya logistikpun mahal, dan ini yang membuat harga nikel mengalami kenaikan," ujarnya. 

Berpeluang Tembus USD 18.000 per Ton

Ibrahim menilai selama konflik di Timur Tengah belum mereda, tekanan terhadap rantai pasok sulfur masih akan berlanjut. Hal ini menjadi katalis yang dapat menopang kenaikan harga nikel dalam jangka pendek. 

Ia menambahkan, kenaikan harga tersebut sebenarnya telah lama dinantikan pasar. Pasalnya, sebelumnya harga nikel sempat terkoreksi cukup dalam akibat kombinasi faktor oversupply serta berbagai kebijakan pemerintah yang memengaruhi sentimen terhadap komoditas tersebut. Kini, risiko geopolitik justru menjadi pendorong baru yang berpotensi mengangkat kembali harga nikel di pasar global. 

"Kenaikan ini sebenarnya sedang ditunggu oleh pasar, karena sebelum-sebelumnya kebijakan Pemerintah membuat harga nikel kembali terkoreksi. Nah, ada kemungkinan bahwa harga nikel akan menuju di USD 18.000 kalau kondisi Timur Tengah masih memanas," pungkasnya.

Rekomendasi