Badan Pusat Statistik ( BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Nusa Tenggara Barat (NTB) negatif (-) 4,11 persen. Penyebabnya, provinsi tersebut masih mengandalkan komoditas tambang sebagai faktor utama pertumbuhan ekonomi.
Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto mengatakan, harga komoditas tambang masih belum stabil. Untuk itu, dia mengusulkan agar daerah tak bergantung pada sektor tambang, tetapi bergantung pada investasi dan pariwisata.
"NTB itu perekonomiannya sangat tergantung pada tambang. Dulu Newmont sekarang Amman, jadi memang kalau kita lihat, akan terjadi pengaruh di sektor pertambangan. Terjadi penurunan produksi di Freeport dan Amman, itu yang menyebabkan NTB negatif pertumbuhan ekonominya," kata Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Jumat (5/5).
Selain NTB, lanjutnya, Papua dan Kalimantan Timur juga mesti hati-hati. Sebab, kedua provinsi ini juga bergantung pada hasil Sumber Daya Alam (SDA). Untuk itu, tiga provinsi ini diminta beralih ke pariwisata dan ekonomi kreatif agar ekonominya bisa tumbuh.
"Ke depan di swicth, janganlah bergantung terlalu besar terhadap SDA yang bisa dieksploitasi habis-habisan. Ke depan bagaimana kita bisa menghasilkan nilai tambah di berbagai sektor lain. Oleh karena itu, pemerintah menggarisbawahi ekonomi ke depan adalah ekonomi kreatif, pariwisata dan tidak mengeksploitasi SDA dan lebih berkelanjutan," katanya.
Berdasarkan laporan BPS dari sisi wilayah, Pulau Jawa masih menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 58,49 persen dengan pertumbuhan 5,66 persen. Disusul Pulau Sumatera dengan porsi 21,95 persen yang tumbuh 4,05 persen. Kemudian, Kalimantan dengan porsi 8,33 persen dan tumbuh 4,92 persen.
Sulawesi yang porsinya hanya 5,94 persen, namun ekonominya tumbuh paling tinggi 6,87 persen. Maluku dan Papua porsinya 2,26 persen dengan pertumbuhan 4,16 persen. Bali dan Nusa Tenggara memiliki porsi 3,03 persen dan tumbuh 2,36 persen.