Tingginya harga gas dalam negeri menjadi Pekerjaan Rumah (PR) pemerintahan Jokowi-JK. Perusahaan yang menggunakan gas sebagai bahan baku mengalami kesulitan untuk bersaing, salah satunya perusahaan amonia dalam negeri.
Produsen amonia nasional, PT Kaltim Parna Industri (KPI) berharap harga gas dalam negeri bisa turun. Harapannya, produk yang dihasilkan bisa lebih bersaing. Direktur Teknik PT KPI, Hari Supriyadi mengatakan, semakin banyak produk turunan amonia dan kompetitif di pasaran, maka produsen juga butuh bahan baku dengan harga yang lebih murah.
"Dengan harga gas alam yang murah, maka akan berdampak besar bagi harga bahan baku turunan yang akhirnya akan mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik," ujarnya di Jakarta, Jumat (26/8).
Menurutnya, jika harga gas alam yang tinggi akan memberikan dampak negatif bagi banyak pihak. Menurut Hari, harapan untuk mempertahankan industri amonia dan tumbuhnya industri turunannya akan menjadi mustahil terwujud jika harga gas alam tinggi.
"Dampaknya tentu bisa negatif, karena bisa menimbulkan pengangguran, sementara impor bahan baku produk amoniak dan turunannya akan semakin membanjiri pasar dalam negeri, sehingga Indonesia tidak dapat mandiri dan cita-cita swadaya energi hanya akan sekadar mimpi," tegasnya.
Insentif untuk produsen amonia akan menimbulkan multiplier effect yang lebih besar bagi tumbuhnya perekonomian dalam negeri. Oleh karena itu peran pemerintah untuk memberikan insentif dalam bentuk diskon ataupun penurunan harga gas ke tingkat keekonomian pabrik amonia menjadi suatu hal mutlak pada era saat ini.
"Ini semata-mata demi menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan yang berdampak luas. Dengan adanya harga gas ekonomis untuk industri amonia, maka jelas hal ini akan memberikan dampak positif."
PT KPI adalah satu-satunya perusahaan swasta di Indonesia yang memproduksi amonia. Pabriknya yang berada di Bontang, Kalimantan Timur telah beroperasi sejak 2002 dengan kapasitas 500.000 metrik ton (MT) dan memberi kontribusi signifikan secara nasional ataupun bagi masyarakat setempat.
Sebelumnya, Plt Menteri ESDM, Luhut Binsar Panjaitan berjanji akan fokus menurunkan harga gas dalam negeri. Dia berjanji akan melakukan beberapa kebijakan penghematan, seperti harga gas, baik di industri maupun untuk rumah tangga. Dia juga akan membuat formula khusus untuk mengatur harga avtur yang juga masih lebih tinggi agar bisa diturunkan.
"Kita akan melakukan penghematan di sana sini, misalnya harga gas yang terlalu tinggi, kemudian harga avtur terlalu mahal sehingga membuat kita tidak kompetitif. Kita akan buat formula untuk itu. Kita akan lari menuju ke sana tadi,"
"Sudah pernah kita bahas, kita (avtur) lebih mahal 20 persen lebih daripada Singapura. Mereka tidak punya gas kenapa bisa lebih murah dari kita? Itu perlu dicari titik terangnya," pungkasnya.