Agus Marto: Bank Indonesia bukan warisan kolonial

Luncurkan buku sejarah bank sentral di Indonesia.

Siti Nur Azzura
Oleh Siti Nur Azzura - Reporter
Agus Marto: Bank Indonesia bukan warisan kolonial
Gedung Bank Indonesia. Merdeka.com / Dwi Narwoko

Bank Indonesia bukanlah warisan kolonial, melainkan dibangun lewat proses perjuangan.

Demikian pernyataan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo saat peluncuran buku berjudul: Perjuangan Mendirikan Bank Sentral Indonesia, Jakarta, Selasa (9/8).

Sebagaimana judulnya, buku itu bercerita tentang kelahiran Bank Indonesia sebagai hasil perjuangan panjang bangsa dalam menegakkan kedaulatan ekonomi. Kala itu, pemerintah Indonesia mendapat desakan untuk mendirikan bank sentral yang fungsinya sama seperti De Javasche Bank.

Lantaran didesak, Soekarno dan Hatta kemudian mendirikan Bank Negara Indonesia (BNI). Namun, sulit untuk menjadi bank sentral secara utuh lantaran berbagai kendala. Di antaranya, ketidakstabilan politik.

"De Javasche Bank itu bukan dinasionalisasi, kita bayar bank itu dengan uang Indonesia. Jadi kita memiliki bank sentral dengan perjuangan, bukan warisan kolonial," katanya.

"BI berdiri 1953. Sejak 1945 hingga 1953 adalah perjuangan untuk menjadi bangsa Indonesia."

Agus berharap buku tersebut bisa menjadi media masyarakat mengetahui sejarah panjang bank sentral di Indonesia.

Rekomendasi