Kementerian Perdagangan berencana akan membuka keran impor gula mentah (raw sugar) sebanyak 381.000 ton. Impor gula yang akan dilakukan perusahaan BUMN ini diharapkan bisa menstabilkan harga gula di pasaran yang saat ini mencapai Rp 16.000 per Kg.
Menteri Perdagangan, Thomas Lembong mengatakan, harga gula di pasar dunia dalam 4 bulan terakhir memang mengalami kenaikan. Sehingga, kenaikan harga gula di Indonesia dianggap sebagai kewajaran.
Dengan dilakukannya impor bahan baku untuk gula kristal putih ini bisa menekan harga di Tanah Air.
"Raw sugar yang bisa saya sampaikan saat ini adalah kita harus mengakui di seluruh dunia memang mahal. Saya baru minta bagian pendataan Kemendag untuk mengumpulkan data-data itu, faktor-faktor apa yang menunjukkan harga bulan melonjak," ujar Lembong di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (8/6) malam.
Impor gula dinilai tidak akan memberi pengaruh terhadap kehidupan petani lokal. Sebab, pemerintah sudah memutuskan akan memberikan HPP atau jaminan harga minimum kepada petani tebu di mana pun, siapa pun, dan berapa pun produksinya akan dibeli PTPN dan BUMN terkait.
"Kita sudah siapkan harga HPP itu Rp 9.100 per kg. Jadi petani tebu enggak usah khawatir mengenai impor, produksi berapa pun juga sudah ada harga minimum yang dijamin pemerintah akan diserap oleh BUMN kita," kata dia.
Apabila impor dilakukan, maka petani akan diuntungkan karena gula akan terserap dengan maksimal. Hal ini dinilai akan memberi peluang bagi petani untuk menyimpan dan menjualnya saat harga mahal nanti.
"Dalam penilaian saya pribadi gula ini kan barang yang bisa di stok, bukan barang segar yang cepat busuk. Jadi tidak terlalu sulit jika di gudangkan, kalau umpannya sampai terjadi kelebihan penyerapan kan bisa di stok, ketika harga engga begitu tinggi ini bisa digelontorkan ke pasar," pungkasnya.