Berakhirnya karir orang paling kuat dalam bisnis minyak asal Saudi

Raja Salman mengganti Menteri Perminyakan, yaitu Ali al-Naimi yang sudah menjabat di posisi ini sejak 1995.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Berakhirnya karir orang paling kuat dalam bisnis minyak asal Saudi
Menteri Perminyakan Saudi, Ali. CNN©2016

Negara pengekspor minyak terbesar dunia, Arab Saudi baru saja melakukan reshuffle atau perombakan kabinet. Raja Salman mengganti Menteri Perminyakan, yaitu Ali al-Naimi yang sudah menjabat di posisi ini sejak 1995.

Al-Naimi digantikan oleh Khaled al-Falih yang merupakan Chairman dari BUMN perminyakan, Saudi Aramco.

Ali al-Naimi adalah orang paling kuat dalam bisnis minyak dalam dua dekade terakhir. Sebagai menteri perminyakan Saudi, Ali mengendalikan cadangan minyak mentah terbesar dunia. Di samping itu, dia juga adalah pimpinan de-facto OPEC.

Kekuasaan Ali terlihat beberapa tahun terakhir saat harga dunia mulai anjlok parah dari puncaknya di atas USD 100 per barel, menjadi hanya USD 40 per barel. Negara penghasil minyak lainnya bergantung pada Arab Saudi untuk kembali mendongkrak harga minyak dengan memangkas produksinya.

Namun, Ali berkata lain. "Arab Saudi tidak akan memangkas produksi minyak untuk mengangkat harga," katanya di awal 2014 seperti dikutip dari CNN.

Ali enggan menaikkan harga minyak, dan dia lebih memilih melindungi pasar Arab Saudi meski ekonomi negaranya menjadi amburadul. Saudi hampir kehabisan uang tunai dan negara tersebut telah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebagai dampak dicabutnya subsidi.

"Jika mereka (negara non-OPEC) ingin memangkas produksi silakan. Kami tidak akan memotong produksi. Arab Saudi tidak akan memangkas produksi," kata Ali saat itu.

Sebenarnya, kekuasaan Ali sudah terlihat mulai memudar usai pertemuan negara OPEC dan non-OPEC di Doha beberapa waktu lalu. Dia tetap pada pendiriannya tidak akan memangkas produksi minyak, namun hanya membekukan sementara waktu.

Wakil Putra Mahkota Saudi juga enggan memangkas produksi untuk menaikkan harga.

Wakil Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman mengatakan, Arab Saudi tidak akan memangkas produksi minyak, kecuali Iran setuju melakukan hal yang sama. Iran justru mengatakan tidak, dan antara kedua negara tidak pernah ditemukan kesepakatan.

Menghadapi rendahnya harga minyak, Saudi malah mengeluarkan kebijakan baru yang disebut cetak biru ekonomi jangka panjang untuk menghadapi rendahnya harga minyak dunia. Namun, hal ini dinilai tidak mudah karena banyaknya tantangan struktural negara yang harus dihadapi Kerajaan.

Cetak biru ekonomi Saudi jangka panjang ini disebut 'Saudi Vision 2030' yang mengubah beberapa peraturan, anggaran dan kebijakan dalam 15 tahun ke depan. Intinya, Saudi ingin mengurangi ketergantungan keuangan negara pada sektor minyak. Sebagai eksportir minyak terbesar dunia, defisit anggaran Saudi pada 2015 mencapai rekor tertinggi yaitu USD 98 miliar.

Para pejabat setempat sudah mengambil tindakan untuk mendiversifikasi pendapatan sebelum kas negara mengering. Bulan ini, Deputi Putra Mahkota, Mohammed bin Salman mengatakan pada perusahaan minyak milik negara, Aramco agar asetnya dan investasinya di arahkan ke sektor lain.

Analis dari McKinsey menyebut, Saudi bisa menaikkan pendapatan negara dan memperbaiki ekonominya dengan beberapa syarat. Pertumbuhan PDB bisa tumbuh dua kali lipat di tahun ini dibanding 2015 jika pejabat setempat bisa fokus pada delapan sektor non-minyak seperti manufaktur, pertambangan, pariwisata, kesehatan, dan keuangan. PDB Saudi sendiri tumbuh 3,4 persen di 2015.

Rekomendasi