Kinerja IHSG 2015, sempat cetak sejarah tertinggi lalu terperosok

Jika dihitung sejak awal tahun, IHSG sudah melemah 13,89 persen.

Novita Intan Sari
Oleh Novita Intan Sari - Reporter
Kinerja IHSG 2015, sempat cetak sejarah tertinggi lalu terperosok
Bursa efek Indonesia. ©2013 Merdeka.com/M. Luthfi Rahman

Sepanjang tahun 2015, kinerja pasar saham Indonesia melalui Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terbilang cukup berfluktuasi. Alih-alih menguat, IHSG justru balik badan belakangan ini. Jika dihitung sejak awal tahun, IHSG sudah melemah 13,89 persen, bahkan IHSG sempat terkoreksi 16,89 persen dan menjadi pasar modal terburuk di Asia Pasifik.

"Di sektor pasar modal secara umum kinerja tahun ini boleh dikatakan masih minus year to date 13,8 persen tetapi terus menunjukkan basis makin menguat setiap hari," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad.

Koreksi IHSG masih melanjutkan tekanan setelah The Fed menunda penaikkan suku bunga dari pertengahan 2015. Selain itu, sejumlah lembaga keuangan juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015 dan 2016.

Memasuki paruh kedua tahun 2015, sejumlah analis mulai memberikan proyeksinya. Di tubuh Asosiasi Analis Emiten Indonesia, target IHSG akhir tahun tidak seragam. Mandiri Sekuritas menargetkan IHSG hingga akhir tahun sekitar 4.500 atau lebih rendah dibandingkan dengan pencapaian akhir tahun lalu di level 5.226. Sementara itu, Investa Saran Mandiri lebih optimistis, mematok IHSG di tingkat 5.600 di akhir 2015.

Kubu optimistis dan pesimitis memang punya argumennya masing-masing. Ada yang berharap pada proyek-proyek pemerintah yang diyakini mulai dieksekusi paruh kedua tahun ini. Di sisi lain, sejumlah tantangan baik internal maupun eksternal siap menjegal laju IHSG.

Menariknya, pertengahan tahun ini bertepatan dengan perombakan jajaran direksi PT Bursa Efek Indonesia. Di mana Tito Sulisto menjadi pucuk pimpinan BEI menggantikan Ito Warsito. Di pundak para penjaga gawang pasar modal inilah tuntunan atas kinerja IHSG dibebankan.

Di lingkup internal sejumlah pekerjaan internal harus segera diselesaikan jajaran direksi baru BEI. Salah satunya adalah soal fraksi harga saham. Dalam aturan fraksi saham yang baru BEI hanya membagi tiga kelompok harga. Untuk harga saham kurang dari Rp 500 memiliki fraksi Rp 1 dan pergerakan harga maksimal Rp 20.

Adapun untuk harga saham Rp 500 di bawah Rp 5.000 memiliki fraksi harga sebesar Rp 5 dan pergerakan harga maksimal Rp 100, sedangkan harga saham Rp 5.000 ke atas ditetapkan fraksi senilai Rp 25 dan pergerakan harga maksimum Rp 500.

Persoalan lain yang menjadi tantangan IHSG dari lingkup internal adalah rencana untuk memperbesar modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) perusahaan efek yang saat ini sebesar Rp 25 miliar. Jika aturan ini dilaksanakan diprediksi banyak perusahaan Sekuritas yang akan gulung tikar.

Di sisi lain, tantangan juga datang dari kondisi fundamental perekonomian. Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2015 melambat hingga di level 4,7 persen. Hal ini juga menggambarkan penurunan performa sejumlah perusahaan yang melantai di pasar saham.

Tantangan Global

Bukan kebetulan juga jika tantangan global di sisa tahun ini cukup membuat ketar ketir. Hambatan yang paling banyak menyita perhatian soal depresiasi nilai tukar Rupiah. Apalagi fenomena super dolar diprediksi masih bisa berlanjut.

Belum lagi, sebuah negara maju bernama Yunani mengalami gagal bayar dan terancam keluar dari zona euro di 2015. Meski dampak krisis Yunani terhadap pasar di Indonesia memang tidak akan terlalu besar.

Kendati IHSG melemah, Muliaman menjelaskan kinerja pasar modal Tanah Air masih cukup baik. Itu terlihat dari masih meningkatnya nilai penawaran umum perdana saham (IPO) dan surat utang.

"Nilai IPO, right issue, obligasi sukuk naik 12,5 persen mencapai Rp 108,7 triliun pada 17 November 2015," jelas dia.

Peningkatan ini, Muliaman menjelaskan didorong oleh optimisme investor terhadap perekonomian Indonesia ke depannya. Selain itu, nilai aktiva bersih reksa dana yang juga naik. "Reksa dana per 17 November, naik 9,45 persen menjadi Rp 264,5 triliun," pungkasnya.

Berikut sedikit rangkuman pergerakan IHSG sepanjang 2015.

Pada perdagangan di bulan April 2015, sinyal perlambatan ekonomi di dalam negeri yang dibarengi kinerja buruk sejumlah emiten pada kuartal I 2015 membuat IHSG mencapai titik terendah di awal tahun. Tercatat pada 28 April, IHSG berada di posisi 5.193,4 atau turun 0,99 persen.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, penurunan indeks disebabkan persepsi pelaku pasar terhadap kinerja keuangan sejumlah perusahaan.

"Kebanyakan investor punya ekspektasi laba perusahaan yang lebih tinggi. Ternyata kuartal I banyak laba (perusahaan) yang di bawah perkiraan," ujar dia.

Selanjutnya, pada Juni 2015, IHSG sempat melemah 1,99 persen atau 98,02 poin menjadi 4.837. Ini disebabkan belum adanya kepastian The Fed untuk menaikkan suku bunga sehingga kondisi pasar saham dalam negeri mengalami gejolak tinggi dengan kecenderungan melemah.

Dan jelang akhir tahun, IHSG merosot 2 persen pada September 2015, mendekati rekor terendah selama dua tahun. IHSG berkurang 88,94 poin atau 2,11 persen ke level 4.120.

Kendati demikian, sepanjang April 2015 sempat mencetak posisi tertinggi dan rekor baru sepanjang sejarah setelah menembus level 5.523 atau menguat 0,79 persen pada 7 April 2015. Bahkan tertinggi di kawasan ASEAN. Saat itu Presiden Joko Widodo menilai kinerja positif pasar modal merupakan cermin optimisme pelaku pasar terhadap masa depan ekonomi Indonesia.

"Jadi kita harus percaya diri, optimis bahwa ekonomi ke depan lebih baik. Dan karena itu salah satunya alasan saya mengecek lewat BEI," ujarnya ketika berkunjung ke Gedung BEI.

Rekomendasi