Kebakaran lahan dinilai tak berhubungan dengan proyek 35.000 MW

Kontribusi industri kelapa sawit untuk kelistrikan sangat kecil.

Yunita Amalia
Oleh Yunita Amalia - Reporter
Kebakaran lahan dinilai tak berhubungan dengan proyek 35.000 MW
Kebakaran lahan dinilai tak berhubungan dengan proyek 35.000 MW

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengatakan pembangunan proyek listrik 35.000 megawatt (MW) tidak berhubungan dengan kebakaran lahan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan. Pasalnya, kontribusi industri kelapa sawit untuk kelistrikan sangat kecil.

Ketua Bidang Agraria Kelapa Sawit Indonesia Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Eddy Martono mengatakan saat ini pabrik kelapa sawit sebanyak 1.000 pabrik. Per pabrik hanya dapat menghasilkan 1,3 MW, maka total kapasitas pembangkit listrik yang ada hanya 1.300 MW.

"Posisi pabrik belum sampai 1.000 pabrik. Anggap lah 1.000 pabrik, mechanic capture yang terbangun 1.300 mw. Jauh sekali 35.000 MW. Jadi tidak ada kaitannya," ujar Eddy dalam diskusi Energi Kita yang digelar merdeka.com, RRI, IJTI, IKN, DML dan Sewatama di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Minggu (25/10)..

Dia menegaskan produksi listrik yang dihasilkan industri sawit hanya mampu untuk mengaliri beberapa pabrik pengolahan dan perumahan yang berada di sekitar pabrik.

"Kalau dari listrik boiler dari turbine hanya cukup pabrik pengolahan pabrik dan beberapa perumahan sekitar pabrik. Tidak cukup listrik lalu dijual keluar," kata dia.

Namun, kata Eddy, perusahaan kelapa sawit enggan membangun pembangkit listrik lantaran dana investasi terlalu mahal. "Untuk membangun 1 mechanic methane itu bisa menghabiskan USD 4 juta," pungkas dia.

Rekomendasi