Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi bantalan ekonomi Indonesia saat menghadapi krisis ekonomi 1998. UMKM mampu tegak berdiri dan menyerap tenaga kerja yang menganggur akibat krisis ekonomi.Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bahlil Lahadalia mengatakan saat ini Indonesia masih kekurangan jumlah pengusaha termasuk pengusaha UMKM. Ironisnya, 53 persen sarjana Indonesia lebih memilih menjadi karyawan ketimbang pengusaha."Kondisi sekarang, pengusaha baru 1,3 persen dari 250 juta penduduk. Padahal idealnya 2 persen, Indonesia masih kekurangan 1,5 juta pengusaha," ujar dia di HIPMI Center, Jakarta, Kamis (3/9).Menurut dia, banyak yang takut menjadi pengusaha lantaran tidak adanya dukungan dari perbankan. Hal tersebut terlihat dari ketatnya aturan bank untuk pengusaha mendapatkan modal."Aturan bank ketat, harus punya neraca 3 tahun terakhir, dari mana punya neraca? Dia ini pengusaha yang baru mau mulai usaha, belum lagi bank minta aset jaminan 120 persen, boro-boro punya jaminan," kata dia.Dia menambahkan perbankan harus bisa mendukung para pengusaha baru dengan mengubah aturan ketat tersebut. Sehingga, banyak masyarakat yang mau menjadi pengusaha."Kalau bankir cara pikirnya ada aset jaminan dulu apa bedanya bank dengan pegadaian? Harus ada penyesuaian aturan," pungkas dia.
Ketatnya aturan bank bikin masyarakat enggan jadi pengusaha
Hipmi menilai kepemilikan pengusaha Indonesia masih jauh dari batas ideal 2 persen.
Rekomendasi