Meskipun bukan termasuk negara maju dan kaya seperti Amerika atau negara di Eropa, perusahaan otomotif dunia tetap tertarik memasarkan produk mobil mewahnya di Indonesia. Alasan logisnya, rakyat Indonesia terkenal konsumtif. Kondisi ini secara tidak langsung menjadikan Indonesia pasar empuk mobil mewah.
Tengok saja di ibu kota Jakarta, masyarakat sudah tidak aneh melihat pelbagai merek dan jenis mobil kelas premium, seperti Ferrari, Lamborghini, Land Rover hingga Jeep Wrangler berseliweran membelah jalanan kota. Jenisnya dari mulai mobil sport, mobil klasik classic maupun model terbaru.
Mayoritas pemilik mobil jenis premium tersebut merupakan orang-orang berduit. Wajar jika melihat banderol mobil mewah tersebut yang nilainya bisa mencapai miliaran rupiah.
Secretary The Djakarta Auto, Ambar mengungkapkan, rata-rata harga mobil jenis premium ini mulai dari Rp 3,85 miliar hingga Rp 9,5 miliar. Harga itu selama pameran tahunan otomotif Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) 2015.
Walau mayoritas pembeli mobil mewahnya merupakan orang golongan berduit, tapi tidak semua membeli secara tunai. Bahkan, hampir semua membeli mobil mewah dengan cara utang.
"Rata-rata semua melalui leasing dan kredit. Pembeli kalangan kelas A (golongan kaya). Dan mereka (membeli mobil mewah) kredit saja," kata Ambar di Jakarta, akhir pekan lalu.
Selama 10 hari pameran IIMS 2015, tidak ada potongan harga maupun promo yang diberikannya. Ambar juga tidak menjelaskan detail rata-rata gaji konsumennya. Jika mengacu harga mobil premium ini, setidaknya diperlukan pendapatan yang super besar.
prosesnya memiliki mobil mewah pun tidak mudah. Mobil pesanan tidak langsung terparkir di garasi rumah meski segala persyaratan sudah dipenuhi. Pembeli harus sabar hingga setahun, hingga akhirnya mobil impian ada di genggaman. Paling cepat waktu yang dibutuhkan delapan bulan.
Lamanya proses ini karena beberapa faktor. Selain jenis barang yang dipilih, banyak juga para konsumen meminta agar mobil mewah mempunyai spesifikasi di atas standar. Biasanya ini terjadi pada pembeli Ferrari.
"Jadi mereka bisa minta opsi. Kebanyakan Ferrari kan tidak ada yang standar," terangnya.