Pemerintah menargetkan nilai perdagangan Indonesia dengan Turki mencapai USD 5 miliar dalam lima tahun mendatang.
"Saat ini sekitar USD 1,4 miliar," ujar Menteri Perdagangan Rachmat Gobel usai menghadiri forum bisnis Indonesia-Turki, Jakarta, Sabtu (1/8).
Forum itu dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan seratus pebisnis negara transkontinental tersebut.
Menurut Rachmat, posisi Turki strategis. Ini bisa dimanfaakan Indonesia untuk memerluas pasar ke Eropa dan Asia Barat.
"Kami akan lihat kekuatan produk Indonesia yang bisa mengisi pasar Turki. Dan bukan hanya ke Turki saja, mungkin ke daerah-daerah lain, entrinya dari Turki," jelas dia.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto menambahkan, Turki berniat investasi pembangkit listrik energi panas bumi di Indonesia. Dari megaproyek pembangkit listrik 35 ribu megawatt, pemerintah memutuskan sebanyak 25 persen menggunakan energi panas bumi.
"Di Geotermal itu dia (Turki) mau masuk gede-gedean," ujar Suryo.
Dia mengungkapkan, nilai investasi geothermal besar. Sekitar USD 4 juta untuk satu megawatt.
"Jadi kita lihat saja berapa megawatt Turki ingin masuk. Kalau seribu megawatt saja sudah USD 4 miliar," jelas dia.
"Jadi menurut hemat saya karena pemerintah juga mau bangun 35 ribu megawatt, ya berikan saja, fasilitasi lah, berikan dukungan jika memang benar serius."