Yunani kini dilanda krisis ekonomi dan resmi menjadi negara bangkrut. Negara ini kehabisan uang dan tidak mampu membayar utang ke IMF yang sudah jatuh tempo akhir Juni lalu. Akhirnya, bank sentral Eropa akan menyuntik dana utang baru sebesar USD 96 miliar atau sekitar Rp 1.280 triliun.
Penyuntikan dana masih menunggu kesepakatan Yunani untuk melakukan reformasi keuangan, khususnya di sistem pensiun PNS. Sistem pensiun PNS Yunani disebut sangat kacau dan menguras anggaran.
Lalu, bagaimana sebenarnya sistem pensiun di Yunani?
Usia pensiun rata-rata di Yunani adalah 62 tahun untuk laki-laki dan 60 tahun untuk perempuan. Namun, baru-baru ini telah dikoreksi menjadi 67 tahun.
Namun, Ahli Pensiun dari University of Piraeus di Athena, Platon Tinions mengatakan, banyak pengecualian yang dilakukan masyarakat di luar sistem yang ada. Banyak PNS Yunani yang sudah pensiun sejak usia 50 tahun. Pekerja termotivasi pensiun dini karena situasi kerja yang tidak stabil.
Dia mengatakan, hampir tidak ada masyarakat Yunani yang mau pensiun di usia 67 tahun. "Masyarakat yang pensiun dini sekarang karena aturan baru. Mereka tidak mau pensiun 67 tahun," ucap Platon seperti dilansir dari CNN di Jakarta, Kamis (16/7).
Selain itu, pengeluaran pemerintah Yunani paling banyak hanya untuk membayar pensiun, dan lebih besar dari negara Eropa manapun. Bahkan, jumlah anggaran untuk pensiun di Yunani disebut mencapai dua kali lipat anggaran Estonia, Irlandia dan Slovakia.
Sekitar 2,7 masyarakat Yunani menerima manfaat pensiun dibanding jumlah populasi 11 juta orang. Angka ini terus meningkat tiap tahun.
Yunani disebut memiliki sistem pensiun terburuk di dunia. Rasio utang negara terus naik karena tanggungan untuk pensiun juga naik. Yunani menempati peringkat 42 dari 50 negara yang mempunyai sistem pensiun terburuk.
Namun demikian, memang benar Yunani telah mengubah sistem pensiunnya. Khususnya, untuk pensiunan yang dibayar 2.000 euro per bulan kini telah dipotong 40 persen. Untuk pensiunan yang mendapat 1.000 euro per bulan juga dipotong 14 persen.
"Tapi reformasi lebih lanjut perlu dilakukan untuk melindungi generasi berikutnya. Anak muda di Yunani bisa menjadi sangat miskin," tutup Platon.