Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati menyebut kondisi ekonomi Indonesia berada dalam lampu kuning. Hal ini dapat dilihat dari merosotnya pertumbuhan ekonomi yang hanya mampu tumbuh 4,71 persen. Enny menyadari, fakta ini terjadi karena hantaman ekonomi global yang tidak bisa dihadang pemerintah Indonesia.
"Sayangnya dari beberapa capaian ekonomi selama ini menunjukkan perkembangan yang justru memburuk, bahkan semakin kontradiktif dari visi Nawacita yang diusung pemerintahan Jokowi - JK," ucap Enny dalam diskusi di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (9/5).
Enny menyebut pertumbuhan sektor ekonomi di Indonesia masih sangat timpang. Saat ini yang terus tumbuh justru sektor jasa yang sangat minim penyerapan tenaga kerja. Misalnya, jasa informasi dan komunikasi yang tumbuh 10,53 persen, jasa lainnya 8 persen dan jasa keuangan dan asuransi 7,57 persen.
"Padahal sektor-sektor tersebut relatif kedap dalam menyerap tenaga kerja, khususnya tenaga kerja formal. Struktur kontribusi lebih ke jasa, Jokowi lebih kepada penciptaan barang. Tapi justru sektor riil makin drop, yang tumbuh sektor jasa," jelasnya.
Untuk Enny menyarankan agar para pembantu di pemerintahan Jokowi ini dapat di evaluasi dan bukan hanya sekedar perombakan kabinet kerja. Enny menyarankan kepada Jokowi agar menilai kapabilitas menterinya, khususnya menteri ekonomi.
"Publik ingin evaluasi, apakah evaluasi berujung reshuffle itu kewenangan presiden. Dalam kinerja ekonomi sampai triwulan I bukan sekadar penurunan ekonomi. Kabinet ini harus dievaluasi tidak bisa per menteri karena hasil kerja ekonomi tidak semata-mata tim ekonomi," tutup dia.