Membongkar dapur di balik tiket murah AirAsia

Belum lama ini, pemerintah geram dengan praktik tiket murah yang disinyalir mengabaikan faktor keselamatan.

Bimo Pratomo
Oleh Bimo Pratomo - Reporter
Membongkar dapur di balik tiket murah AirAsia
Pramugari AirAsia. ©2014 merdeka.com/istimewa

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan berencana menertibkan tiket penerbangan murah yang jor-joran dipromosikan oleh maskapai penerbangan. Alasan Jonan, perang harga atau tiket pesawat kerap membuat maskapai mengabaikan faktor keselamatan.Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengendus adanya persaingan bisnis di industri penerbangan yang membuat maskapai penerbangan melanggar aturan dengan menambah atau mengubah slot penerbangan. Hal itu juga yang diyakini terjadi pada AirAsia QZ8501 rute Surabaya-Singapura yang terbang pada Minggu (28/12).Lalu apakah benar dugaan tersebut terjadi di AirAsia? Merdeka.com, beberapa waktu lalu, pernah menelusuri strategi di balik perhitungan tiket murah AirAsia. Saat itu, website airasia.com membeberkan beberapa kunci maskapai tersebut bisa tetap untung meski harga tiketnya murah.Pertama ialah penggunaan satu pesawat dengan frekuensi tinggi. Salah satu kunci untuk menekan biaya operasional adalah dengan mempergunakan pesawat sesering mungkin. Menurut airasia.com, pesawat harus mulai dioperasikan sepagi mungkin dan diakhiri pada dini hari. Durasi pesawat kembali mengudara adalah hal yang kritis. Pastikan bahwa pesawat seminimal mungkin berada di darat, karena pesawat itu akan menghasilkan uang jika berada di udara.Frekuensi penerbangan pesawat AirAsia adalah 12 jam per hari di udara. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pesawat reguler yang rata-rata 8 jam per hari.Kedua, tidak ada pelayanan gratis. Fokus bisnis maskapai bertarif rendah adalah membawa penumpang sampai ke tujuan. Hal lain adalah dianggap suatu kemewahan, yang bisa dibebankan dengan biaya relatif rendah. Ketiga, sistem operasi sederhana. Maskapai dengan tarif rendah harus hanya mempunyai satu tipe pesawat saja. Jadi Pilot, pramugari dan pramugara, serta mekanik hanya dilatih untuk satu tipe pesawat saja. Selain itu juga tidak ada kelas bisnis dan ekonomi. Di mana artinya semua penumpang, baik itu berkocek tebal atau tidak, mendapat posisi tempat duduk dan pelayanan setara.

Keempat adalah fasilitas yang amat standar. AirAsia lebih memilih terminal atau bandara yang khusus untuk maskapai dengan tarif rendah. Sebagai contoh di Kuala Lumpur yaitu pemilihan Low Cost Carrier Terminal (LCCT) dibanding Kuala Lumpur International Airport. Selain itu, AirAsia tidak mempunyai Lounge yang mencerminkan kemewahan.Kelima ialah jaringan yang pendek. Untuk menghemat biaya, maskapai penerbangan murah tidak pernah menggunakan sistem transit. Apalagi bekerjasama dengan maskapai lain untuk penerbangan yang melibatkan transit. Pada umumnya, penerbangan AirAsia kurang dari 3 jam. Mereka juga tidak pernah bekerjasama dengan maskapai lain untuk melanjutkan tujuan penerbangan atau membuat label pada barang bawaan bagasi dan mentransfernya dari satu pesawat ke yang lain.Keenam, sistem distribusi yang hemat. Ongkos distribusi adalah hal yang seringkali dilupakan oleh maskapai dengan penerbangan tarif standar. Biasanya, maskapai dengan tarif standar akan bergantung pada agen travel untuk menjual tiketnya. Namun, menurut AirAsia itu hanyalah memboroskan ongkos distribusi.Oleh karena itu, AirAsia bekerjasama dengan penyedia kartu kredit. Selain itu, maskapai asal Malaysia ini juga mengedepankan penjualan melalui internet. Terbukti penjualan melalui internet meraup 65 persen dari total konsumen.

AirAsia juga membangun sedikit kantor penjualan dan tidak bekerjasama dengan agen travel. Bahkan, tiket juga bisa dibeli melalui call centre.

Sebelumnya, pemerintah bakal mengatur tarif pesawat, khususnya maskapai penerbangan murah, agar tidak terjadi persaingan yang memicu maskapai berlomba-lomba menambah slot penerbangan di luar izin yang diberikan.Tarif batas bawah akan ditetapkan pemerintah. Dengan kata lain, ke depan tidak ada lagi tiket pesawat yang ditawarkan atau dijual dengan sangat murah. Staf Khusus Menteri Perhubungan Hadi M. Djuraid mengatakan peraturan tersebut segera terbit."Tidak ada lagi ke depan tawaran tiket murah seperti Rp 50.000. Batas bawah ditetapkan 40 persen. Suratnya sendiri masih tunggu pengesahan Menkumham," ujarnya di Kementerian Perhubungan, Jakarta.Dia menjelaskan, aturan ini dikeluarkan lantaran adanya pengaruh harga tiket dengan persaingan bisnis yang akhirnya mengabaikan faktor keselamatan. Sebagai regulator, pemerintah tidak ingin kondisi ini dipelihara."Agar maskapai punya ruang financial yang cukup untuk tingkatkan standar safety. Kita tidak masalah kurangi standar layanan. Seperti maskapai LCC tidak dapat snack, tukar kursi bayar. Tapi yang kurangi standar safety tidak boleh," jelas dia.Menanggapi ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla meluruskan maksud dari rencana Jonan. Wapres mengatakan, rencana ini sebagai bagian dari pembenahan industri penerbangan agar faktor keselamatan menjadi prioritas, bukan soal persaingan bisnis."Bukan ingin menghapuskan, masa mau mahal tapi jangan karena tiket memburu penumpang sehingga mengabaikan keselamatan," papar JK di kantornya, Jl. Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, kemarin.

Rekomendasi