Perusahaan BUMN terlambat garap bisnis ritel, kini diserbu asing

BUMN lamban dalam mengantisipasi perkembangan bisnis ritel.

Novita Intan Sari
Oleh Novita Intan Sari - Reporter
Perusahaan BUMN terlambat garap bisnis ritel, kini diserbu asing
Waroeng Rajawali. ©2013 Merdeka.com

Persaingan bisnis ritel antara tradisional dan modern semakin ketat. Ini membuat bisnis ritel milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kalah saing. Salah satu sebabnya, perusahaan BUMN terlambat masuk ke bisnis ritel dibandingkan sektor ritel modern.

Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro mengatakan, BUMN lamban dalam mengantisipasi perkembangan bisnis ritel.

"Pertumbuhan ritel diawali dari Indomaret yang sudah menginjakkan kaki selama 18 tahun. Kemudian, bisnis tersebut diikuti Alfamart," ujarnya di Gedung RNI, Jakarta, Rabu (10/11).

Ismed menyebut, saking berkembang pesat, sektor ritel sudah masuk pelosok desa. "Karena mereka sudah menyerbu sampai ke desa, sampai perkembangan terakhir Indomaret menjadi fenomena pembangunan gerai, masuk sampai ke kecamatan dan desa," jelas dia.

Gurihnya bisnis ritel tanah air ditangkap ritel asing. Circle K, 7eleven hingga Lawson kini menjamur di Indonesia. "Fenomena bisnis ini terlambat diantisipasi oleh BUMN," ungkapnya.

Dari pengakuannya, pada 2012 sebenarnya BUMN telah memasuki bisnis ritel melalui Bulog mart dan juga PT Pos. Namun, manajemennya terpaksa dikelola pihak lain karena minimnya pengalaman manajemen bisnis ritel perusahaan BUMN.

"Kalau Waroeng Rajawali dan Rajawali Mart juga ditawarkan, dengan belum berpengalaman dia yang memimpin, saya sederhana kalau saya serahkan ke bapak kapan saya punya pengalaman," tutup dia.

Rekomendasi