Rencana pemerintah yang bakal menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada bulan ini melahirkan efek psikologis di masyarakat, warga mulai dilanda kepanikan. Akibatnya, di sejumlah daerah di Indonesia terjadi antrean panjang.
Kondisi ini berimbas pada meningkatnya konsumsi BBM di masyarakat. "Dua minggu terakhir ada lonjakan dari rata-rata 81.000 kiloliter per hari menjadi 96.000 kiloliter," ujar Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero), Hanung Budya di Kantor Pertamina, Jakarta Pusat, Rabu (5/11).
Meski begitu, Hanung yakin ini hanya sementara. Ketika harga BBM bersubsidi dinaikkan maka secara tidak langsung mampu memaksa masyarakat untuk hemat energi.
"Kalau naik biasanya hemat. Kalau beda seribu yang beralih ke Pertamax akan cukup banyak dan itu sudah kita antisipasi," tandas Hanung.
Sebelumnya, kepanikan warga di tengah makin kencangnya rencana kenaikan harga BBM sempat ditanggapi dingin Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said. Dia meyakini kenaikan harga tak berdampak signifikan terhadap lonjakan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi.
Menurutnya, jika terjadi pembelian BBM subsidi besar-besaran pasca penaikan harga, itu hanya berlangsung sesaat. "Kalau rush cuma sebentar, efek psikologis saja," katanya saat ditemui di SKK Migas, Jakarta, Jumat (31/10).
Diakuinya, konsumsi BBM subsidi bisa melebihi kuota lantaran pertumbuhan kendaraan pribadi lebih cepat ketimbang perkiraannya. Untuk itu, ke depan perlu dilakukan pembatasan konsumsi BBM subsidi.
"Itu kita terima sebagai realitas. Sekarang long-term measures-nya apa?" kata Sudirman.
Plt Direktur Utama PT Pertamina Muhamad Husen juga sempat menyatakan kesiapannya menghadapi dampak kebijakan menaikkan harga BBM subsidi. Husen menegaskan Pertamina sudah biasa menangani panic buying dari masyarakat apabila BBM benar-benar dinaikkan. Pertamina, kata dia, sudah pengalaman dengan adanya kenaikan BBM tahun lalu.
"Kita sudah biasa nanganin itu. Biasanya kan sudah siap itu," kata dia.