5 Alasan harga rumah dan apartemen naik gila-gilaan tahun depan

Harga jual hunian di Jakarta dan sekitarnya bakal naik sampai 30 persen tahun depan.

Wisnoe Moerti
Oleh Wisnoe Moerti - Reporter
5 Alasan harga rumah dan apartemen naik gila-gilaan tahun depan
Pembangunan apartemen Sky Garden. ©2013 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Sepanjang tahun ini dan tahun depan, bisnis properti di Indonesia diperkirakan semakin cemerlang. Konsultan properti internasional, Jones Lang LaSalle mencatat bakal ada 42.000 apartemen (kondominium) yang akan masuk ke pasar dalam dua tahun mendatang.

"Hingga tahun 2016 nanti akan ada lebih 42.000 unit baru (kondominium/apartemen) yang datang ke pasar properti Indonesia," ujar Head of Research Jones Lang LaSalle Anton Sitorus beberapa waktu lalu.

Untuk penjualan kondominium per tahun selama ini hanya mengalami kenaikan tipis sebesar 4 persen atau mencapai 13.260 unit dibanding periode sama tahun lalu 12.000 unit. Penjualan kondominium di kuartal IV 2013 tercatat mencapai 2.250 unit. Sementara, peluncuran proyek kondominium baru di kuartal IV 2013 mencapai 10.800 unit.

Tidak hanya apartemen, prospek bisnis perumahan atau hunian pun diperkirakan masih akan moncer tahun depan. Hanya saja, untuk soal harga diperkirakan bakal mengalami kenaikan cukup signifikan. Harga properti residensial untuk semua tipe rumah pada kuartal II 2014, meningkat lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada kuartal kedua 2014 naik 1,69 persen (qtq).

Harga perumahan di daerah Jabotabek dalam beberapa tahun terakhir diakui telah meningkat tajam. Di 2012 misalnya, harga properti telah meningkat sebesar 30 persen. Untuk tahun depan, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Jakarta sudah memprediksi, harga jual hunian di Jakarta dan sekitarnya bakal naik sampai 30 persen.

Ketua DPD REI Jakarta, Amran Nukman memprediksi, pertumbuhan penjualan properti hanya mencapai 10 persen pada tahun depan. Pengembang mengakui ada perlambatan dalam pertumbuhan properti di dalam negeri.

"Secara umum, bakal ada koreksi. Penjualannya tidak setinggi tahun lalu. Perusahaan punya biaya tetap, jadi memaksakan tetap tumbuh," katanya.

Merdeka.com mencatat beberapa faktor yang mendorong harga rumah dan apartemen makin mahal. Berikut paparannya.

Kenaikan harga rumah dan apartemen bisa terjadi jika rencana kenaikan harga BBM benar-benar diimplementasikan di pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

Kenaikan tersebut bakal berdampak pada melonjaknya harga properti sekitar 10 sampai 15 persen, akibat meningkatnya harga bahan bangunan sebagai dampak naiknya harga BBM.

"Normalnya kenaikan rata-rata properti tersebut per tahun hanya 5 persen hingga 10 persen, sebab adanya penambahan fasilitas pada rumah atau apartemen yang dijual. Namun dengan adanya kenaikan inflasi akibat lonjakan harga BBM, kenaikan harga rata-rata properti cukup besar," ujar Komisaris PT Prioritas Land Indonesia (PLI) Victor Irawan dalam siaran pers yang diterima merdeka.com, Senin (6/10).

Dari penjelasannya, tingginya kenaikan harga rumah dan properti di periode 2012-2013 juga tidak lepas dari tingginya permintaan masyarakat.

Tahun lalu, di daerah Jabodetabek saja permintaan perumahan baru diperkirakan mencapai 200.000 unit per tahun. Sedangkan permintaan untuk rumah bekas sekitar 100.000 per tahun. Namun, seiring dengan koreksi pertumbuhan ekonomi, harga diprediksi turun.

"Kenaikan 2012-2013 lalu mencapai 40 persen," kata Ketua DPD REI Jakarta, Amran Nukman di kantornya, Senin (13/10).

Kenaikan harga hunian baik rumah ataupun apartemen tidak hanya didorong rencana kenaikan harga BBM. Faktor lain adalah makin mahalnya ongkos transportasi, biaya konstruksi dan suku bunga bank yang juga meningkat.

"Kenaikan harga bukan hanya dari faktor BBM saja." kata Arvin F. Iskandar Sekretaris REI Jakarta.

Kenaikan harga bahan bangunan mencapai 32,11 persen (qtq) dan upah pekerja yang sebesar 23,09 persen (qtq)." Ini merupakan faktor utama penyebab kenaikan harga properti residensial," kata Komisaris PT Prioritas Land Indonesia (PLI) Victor Irawan dalam siaran pers yang diterima merdeka.com, Senin (6/10).

Kenaikan harga apartemen juga tidak lepas dari faktor larisnya penjualan. Kondisi ini berkaca dari pengalaman tahun lalu.

Penjualan kondominium strata atau apartemen di pasar primer Jakarta sepanjang triwulan II 2013 mencapai 4.280 unit.

Untuk harga, sepanjang semester I 2013 harga kondominium dan apartemen mengalami kenaikan 11-17 persen.

Bank Indonesia (BI) mencatat, harga sewa apartemen sepanjang semester I 2014 mengalami peningkatan. Kenaikan tarif hunian vertikal ini dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

"Tarif sewa apartemen meningkat signifikan sebagai akibat dari pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikannya sendiri di triwulan II 2014 sebesar 43,57 persen," ujar Direktur Eksekutif Departemen Statistik BI Hendy Sulistyowati  di Gedung BI, Rabu (13/8).

Rekomendasi