Julukan Bapak pembangunan disematkan kepada Presiden Soeharto karena dipandang cukup sukses menjalankan pembangunan nasional. Salah satunya alasannya, laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) rata-rata 7,6 persen per tahun dan banyaknya pembangunan infrastruktur di dalam negeri.
Bicara infrastruktur, seolah tidak bisa dilepaskan dari persoalan ekonomi nasional. Lambannya laju pertumbuhan ekonomi disebut-sebut karena minimnya pembangunan infrastruktur di dalam negeri. Pengamat ekonomi maupun pengusaha meyakini, pembangunan infrastruktur bisa mendorong ekonomi tumbuh lebih cepat.
Bahkan, pemerintah sendiri mengakui keberhasilan orde baru dalam pembangunan infrastruktur nasional. "Harus diakui pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah saat ini belum bisa menandingi Orde Baru," ungkap Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana di kantornya beberapa waktu lalu.
Kenangan dan kekaguman terhadap sosok Soeharto kembali muncul. Pengusaha, pemerintah, maupun pengamat mengakui keberhasilan Soeharto membangun infrastruktur. Merdeka.com mencatatnya. Berikut paparannya.
Advertisement
Beberapa waktu lalu pemerintah mengakui investasi untuk pembangunan infrastruktur saat ini masih kalah dibandingkan saat era kepemimpinan Presiden Soeharto.
"Di zaman Orde Baru, investasi infrastruktur dianggarkan 7 hingga 8 persen dari PDB. Saat ini kita baru menganggarkan 3 hingga 4 persen dari PDB untuk infrastruktur," ungkap Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana di kantornya, beberapa waktu lalu.
Di era orde baru, anggaran infrastruktur tergolong tinggi yakni menyentuh 8 persen dari PDB. Total anggaran infrastruktur Indonesia saat itu tak jauh beda dengan China dan India.
Advertisement
Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia mengapresiasi kerja keras Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membangun ekonomi nasional selama 10 tahun terakhir. Hanya saja, pengusaha merasa masih ada pekerjaan rumah belum selesai, khususnya di bidang regulasi proyek-proyek infrastruktur.
Wakil Ketua KADIN Noke Kiroyan melihat pendekatan SBY, tidak seperti Presiden Soeharto. "Beda dengan zaman Pak Harto kalau ekonomi memburuk pemerintah ambil langkah deregulasi hambatan," ujarnya.
Advertisement
Ikatan Ahli Pracetak Prategang Indonesia (IAPPI) tidak menampik pembangunan infrastruktur saat ini sangat berbeda dengan pembangunan infrastruktur di era orde baru lalu atau pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Menurut dia, pembangunan infrastruktur zaman Soeharto lebih berkembang ketimbang zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Advertisement
Sekretaris IAPPI Hari Nugraha Nurjaman melihat, penyerapan anggaran infrastruktur pun lebih efektif pada masa pemerintahan Soeharto ketimbang pemerintahan saat ini. Bahkan, anggaran infrastruktur terserap hampir 80 persen pada masa Soeharto.
"Misalnya kalau ada anggaran Rp 100 triliun untuk infrastruktur, Rp 80 triliun itu terpakai sudah bagus," ujar Hari dalam dalam konferensi pers Concrete Show di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Selasa (7/10).
Advertisement
Pengakuan atas keberhasilan Presiden Soeharto membangun infrastruktur juga datang dari Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz. Dia kagum pada Soeharto lantaran pembangunan rumah susun (Rusun) di era orde baru jauh lebih maju.
"Kita lihat pada zaman Soeharto, rusun sudah maju bahkan ada yang berlantai empat, tapi sekarang ini kita mengalami kemunduran dengan kembali ke rumah tapak," ujar Djan Faridz dalam keterangan persnya, Sabtu (14/6).