DEN desak pemerintah kaji ulang kontrak proyek energi

"Ketahanan energi kita itu dalam status rentan," ujar Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Hadi Purnomo.

Nurul Julaikah
Oleh Nurul Julaikah - Reporter
DEN desak pemerintah kaji ulang kontrak proyek energi
Pipa Panas Bumi. ©2014 merdeka.com/alwan ridha ramdhani

Tingkat ketahanan energi nasional masih sangat rentan. Hal ini dikarenakan tingginya konsumsi BBM impor serta terlambatnya pembangunan energi baru terbarukan. "Ketahanan energi kita itu dalam status rentan, kalau dinilai dengan skala 10 itu, nilai kerentanannya 4,2," ujar Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional, Hadi Purnomo saat seminar potensi pembiayaan ramah lingkungan di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Selasa (26/8).

Dia mengatakan untuk mengejar ketahanan energi nasional, harus ada kesiapan pendanaan dari lembaga keuangan untuk energi terbarukan dan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM). Selain itu, pemerintahan yang baru diharapkan dapat review kontrak-kontrak baru dan kebijakan dalam negeri.

"Ini harus dilakukan diverifikasi fosil ke non fosil untuk ketahanan energi di dunia maupun Indonesia. Meningkatkan eksplorasi dan memaksimalkan energi terbarukan,"kata dia.

Saat ini produksi BBM sepanjang semester I tahun 2014 sebesar 328 juta barel, tingkat konsumsi sebanyak 453 juta barel. Untuk impor BBM sebesar 131 juta barel dan impor minyak mentah (crude) sebesar 88 juta barel.

Dia menekankan pembatasan subsidi BBM diperlukan. Apabila tidak dilakukan, anggaran subsidi akan melebihi Rp 292,5 triliun. "Sehingga pemanfaatan energi terbarukan dari 6 persen menjadi 20 persen pada tahun 2025. Tentu saja harus ada perbaikan kapasitas SDM dan kebijakan," katanya.

Rekomendasi