Bank Dunia (World Bank) merilis data terbaru pertumbuhan ekonomi Indonesia edisi Juli 2014. Laporan Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada sepanjang tahun ini diproyeksikan hanya 5,2 persen dan sedikit lebih dibandingkan perkiraan Maret 2014 yaitu 5,3 persen.
Gejolak yang menekan perekonomian nasional saat ini menjadi tantangan bagi pemerintahan baru. Calon presiden Prabowo Subianto maupun Joko Widodo dihadapkan pada tantangan berat. Siapapun nantinya yang terpilih duduk di kursi orang nomor satu di negeri ini, wajib menyelesaikan persoalan yang menekan laju perekonomian nasional.
Direktur Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo A. Chaves mengatakan melemahnya harga komoditas dan pertumbuhan kredit menjadi kunci. Defisit fiskal juga kian membesar menambah tantangan pemerintah baru yang akan dilantik pada Oktober mendatang.
"Mengurangi risiko perlambatan pertumbuhan ini membutuhkan pelaksanaan reformasi yang mendesak. Indonesia akan memulai babak baru dari sejarahnya dan menghadapi berbagai pilihan kebijakan yang sulit," ucap Rodrigo di Jakarta, Senin (21/7).
Salah satu pilihan sulit adalah mengatasi kerentanan fiskal. Depresiasi nilai tukar Rupiah dan naiknya harga minyak telah memperlebar defisit anggaran negara karena biaya subsidi energi meningkat. Total pendapatan negara terhadap PDB turun dari 16,3 persen pada 2011 menjadi 15,3 persen pada 2013.
"Akan sulit membatasi defisit sehingga hanya 2,4 persen dari PDB terutama jika harga minyak naik terus," tegasnya.
Ekonom utama bank dunia untuk Indonesia, Ndiame Diop menambahkan, salah satu langkah strategis untuk mengatasi ini adalah pengurangan subsidi BBM dan mencegah penurunan lebih lanjut dalam pendapatan pajak dan non pajak.
"Ini akan mengurangi tekanan defisit," tutupnya singkat.