Bank Indonesia (BI) melihat, pendeklarasian dua pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) turut menggenjot penguatan nilai tukar rupiah. Meski begitu, bank sentral melihat efek ini hanya sementara alias temporer.
Gubernur BI Agus Martowardojo menuturkan, penguatan Rupiah pada dasarnya terkait supply dan demand.
"Kalau saya lihat ini sifatnya temporer dan ada faktor bagaimana pemilik dana melihat perkembangan daripada situasi politik Indonesia dan kemudian ikut melepas dana valas sehingga menjadi supply yang besar," ujarnya di Gedung BI, Jakarta, Senin (19/5).
Diakuinya, kondisi politik saat ini cukup baik, sehingga rupiah makin perkasa seiring banyaknya pemilik modal yang melepas valas.
"Kalau sekarang ini kalau seandainya ada penguatan yang sifatnya karena ada pengumuman-pengumuman secara politik baik menurut investor, itu tentunya sifatnya sementara," jelas dia.
Sebagai informasi, berdasarkan kurs tengah BI, nilai tukar rupiah bertengger pada posisi Rp 11.487 per USD pada tanggal 14 Mei lalu. Kemudian pada tanggal 16 Mei, rupiah menguat pada posisi Rp 11.415 per USD dan pada hari ini, Senin (19/5), rupiah kembali menunjukkan penguatan pada posisi Rp 11.351 per USD.
"Yang sekarang ini kalau terjadi perubahan lebih karena temporer karena perkembangan situasi politik," ungkapnya.