Sawah kebanjiran, petani dapat ganti rugi Rp 100.000 per hektar

Kementerian Pertanian belum menghitung luas lahan pertanian yang terkena fuso.

Nurul Julaikah
Oleh Nurul Julaikah - Reporter
Sawah kebanjiran, petani dapat ganti rugi Rp 100.000 per hektar
banjir jakarta. ©2014 merdeka.com/arie basuki

Cuaca ekstrem dan banjir yang melanda beberapa wilayah di Indonesia, mengganggu produktivitas pertanian nasional. Kementerian Pertanian masih melakukan pendataan terkait dampak cuaca ekstrem terhadap sektor pertanian di dalam negeri.

Tidak dipungkiri, banjir melumpuhkan lumbung-lumbung pangan nasional. Pemerintah berjanji mengganti lahan pertanian yang terimbas banjir. "Kita sudah siapkan dana untuk fuso (dana bantuan dari pemerintah untuk petani yang terkena bencana)," ujar Menteri Pertanian Suswono di Gedung BPK, Jakarta, Rabu (22/1).

Suswono menyebut, petani yang lahannya terkena fuso akan mendapat kompensasi Rp 100.000 per hektar. Berbeda dengan tahun lalu di mana hampir 0,6 persen dari luas lahan pertanian 13,5 juta hektar terkena fuso. "Belum bisa memastikan tapi rata. Tanaman masih bisa tumbuh," katanya.

Banjir yang melanda beberapa wilayah Indonesia juga diakui telah mendongkrak harga bahan pangan kebutuhan masyarakat. Terganggunya akses distribusi menjadi salah satu penyebabnya.

"Banjir membuat transportasi terganggu ini membuat kenaikan harga. Tetapi stok mencukupi," jelas Suswono.

Namun, pihaknya sudah mengantisipasinya. Pemerintah sudah menyiapkan strategi untuk distribusi bahan kebutuhan masyarakat jika akses distribusi terganggu cuaca ekstrem. Pemerintah juga menjamin, stok bahan kebutuhan masyarakat masih dalam level aman.

"Stok itu masih bisa untuk Sinabung, banjir dan lainnya. Karena Bulog juga memiliki stok 2,2 juta ton," ucapnya.

Rekomendasi