Anggota Partai Golkar Harry Azhar Azis menyayangkan pembahasan RAPBNP dalam sidang paripurna yang bertele-tele. Harry menegaskan, opsi menaikkan harga BBM sudah tidak perlu dibahas lagi dalam sidang sidang paripurna. Alasannya, opsi tersebut sudah merupakan domain atau kewenangan dari pemerintah.
"Ini tergantung pimpinan DPR. Secara jernih mereka mampu tidak merumuskan opsi-opsi (voting). Ini menurut saya Banggar tidak terlalu jeli merumuskan tentang opsi-opsi. Semua dibiarkan masuk ke paripurna," kata Harry di Gedung DPR, Jakarta, Senin (17/6).
Harry menyoroti beberapa fraksi yang memiliki postur anggaran masing-masing. "Jadi seperti PDIP punya format sendiri, PKS punya format sendiri, kemudian Gerindra BBM naik tapi BLSM-nya, infrastruktur dasar, itu kan menjadi sangat luas wilayah pertempuran politik dibawa ke paripurna yang luas," tutur Harry.
Oleh sebab itu, keputusan rapat paripurna hari ini, menurut Harry sangat tergantung pada rumusan opsi yang dirancang oleh Pimpinan DPR bersama fraksi-fraksi. "Ketika PKS menolak kenaikan BBM, memang itu hak partainya, tapi artinya mereka sudah berbeda dengan ketika menyetujui APBN 2013 yang mereka setujui waktu Oktober 2012, berarti mereka berubah," ungkap Harry.
Harry menilai, langkah PDIP lebih cerdas. Hal ini dilihat dari ruang yang diberikan PDIP kepada pemerintah di sisi inflasi. Di mana PDIP mematok inflasi sebesar 6 persen, sementara saat ini inflasi sudah mencapai 5,57 persen.
"Berarti ruang yang diberikan kepada pemerintah 0,43 persen, bisa tidak pemerintah menaikkan harga BBM tapi inflasi di sisa 1 tahun ini 0,43 persen. Artinya pemerintah harus cocok betul (menekan) itu Menteri Pertanian agar harga cabai tidak naik, beras tidak naik, gula, daging. Bisa tidak itu dilakukan, kalau itu bisa dilakukan menurut saya mungkin PDIP tidak ada masalah. Jadi perdebatan tentang kenaikan harga BBM bukan perdebatan di paripurna," jelas Harry
Dalam rapat paripurna, menurut Harry seharusnya membahas indikator-indikator postur APBN. "Itu yang tidak dipahami oleh yang tidak paham," tutup Harry.