Kuasa Hukum Purdi E. Tjandra, Bambang Heriarto, menegaskan usaha kliennya tidak terpengaruh dengan status pailit yang kemarin dijatuhkan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Salah satu bisnis Purdi yang paling terkenal adalah bimbingan belajar Primagama.
Bambang menjamin, murid-murid bimbingan, maupun karyawan Primagama se-Indonesia tidak perlu khawatir. Sebab yang pailit adalah Purdi, bukan PT Primagama Bimbingan Belajar. Aktivitas les bisa berjalan seperti biasa dan tidak ada cabang yang harus tutup.
"Primagama tidak masalah. Primagama tidak terganggu, yang dipailitkan Pak Purdi secara pribadi," ujarnya saat dihubungi merdeka.com, Jumat (14/6).
Asal mula kasus Purdi ketika dia gagal membayar cicilan pinjaman Murabahah dengan BNI Syariah. Pemberian pembiayaan itu dilakukan pada 29 Agustus 2007 dengan jumlah Rp3,3 miliar dan 9 Mei 2008 senilai Rp20,9 miliar, dan seharusnya dicicil selama 10 tahun.
Bambang mengakui kliennya akhirnya terkena masalah pengelolaan dana. "Kita sudah mengatur sampai 10 tahun, di tahun keempat masih lancar, jelang tahun kelima, ada kemacetan, ya macet sajalah biasa kan bisnis," tukasnya enggan menjabarkan masalah kredit macet Purdi.
Dana yang bermasalah itu dialirkan ke Yayasan Primagama, bukan PT Primagama Bimbingan Belajar. Itu sebabnya, meski Purdi adalah pendiri sekaligus pemilik saham mayoritas, majelis hakim tidak menyatakan pailit pada perusahaan itu.
"Ini pembiayaan untuk yayasan, bukan Primagama Bimbingan Belajar, jadi tidak ada kaitannya," kata Bambang.
Primagama adalah usaha bimbingan belajar yang awalnya dimulai Purdi dari sebuah rumah kontrakan kecil pada 1982 di Yogyakarta.
Di bawah tangan dingin Purdi, Primagama sukses menjadi salah satu lembaga bimbingan belajar prestisius di Tanah Air.
Di masa jayanya, pertengahan 2000, omzet usaha bimbingan belajar mencapai Rp 600 juta per bulan atau Rp 70 miliar setahun. Hingga 2012, cabang Primagama di seluruh Indonesia mencapai 756 unit. Karyawan Primagama sekarang mencapai 8.000 orang.
Purdi cepat mengerek Primagama karena mengubahnya menjadi merek dagang yang dilindungi hak paten, serta mempermudah pembukaan cabang dengan sistem waralaba.
Di sisi lain, Purdi adalah wirausahawan yang sering mengisi seminar motivasi. Pada 2003, dia mendirikan Entrepreneur University (EU). Bukan kampus sungguhan, tapi lembaga pemberi motivasi yang berkeliling Indonesia.
Cita-cita Purdi adalah mencetak sebanyak mungkin wirausahawan baru di Tanah Air dengan cara-cara unik menjurus provokatif. Beberapa slogan EU yang menarik perhatian khalayak adalah BODOL (Berani Optimis Duit Orang Lain) dan ATM (Amati Tiru Modifikasi).