Pusat Grosir Solo Tutup Permanen, Ribuan Pekerja Terancam PHK

Sebagian besar pedagang sudah mengosongkan tempat dan berpindah ke area sekitar seperti Beteng Trade Center (BTC) atau Pasar Klewer.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Pusat Grosir Solo Tutup Permanen, Ribuan Pekerja Terancam PHK
Pusat Grosir Solo Tutup Permanen. (merdeka.com/Arie Sunaryo)

Pusat Grosir Solo (PGS) resmi menutup operasionalnya secara permanen pada Senin 3 Agustus 2026. Pusat perbelanjaan yang sudah berdiri sejak 2005 itu harus gulung tikar setelah PT Putera Griya Sentosa selaku pengelola dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang.

Penutupan ini bukan karena sepi pembeli, melainkan akibat masalah investasi internal perusahaan. Pantauan di lokasi, Rabu (5/8), di depan gedung PGS terpasang baliho besar bertuliskan: "Objek ini berada dalam sita umum dan di bawah penguasaan tim kurator PT Putera Griya Sentosa (dalam pailit)."

"Berdasarkan Putusan Nomor: 6/Pdt.Sus-PKPU/2025/PN.Niaga.Smg. di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang tertanggal 9 Februari 2026," demikian bunyi baliho tersebut.

"Seluruh harta milik PT Putera Griya Sentosa (dalam pailit) berada dalam penguasaan dan pengawasan Tim Kurator sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang No. 37 Tahun 2024 tentang Kepailitan dan PKPU," lanjut keterangan itu.

Jumlah penyewa PGS merosot tajam dalam setahun terakhir. Pada akhir 2025 masih ada sekitar 700 kios yang aktif, namun di akhir masa operasional hanya tersisa 60 kios. Sebagian besar pedagang sudah mengosongkan tempat dan berpindah ke area sekitar seperti Beteng Trade Center (BTC) atau Pasar Klewer.

Manajemen PGS Dibawah Kurator, Bachtiar Ibnu Fadzil menyebut faktor utama penutupan PGS karena sejumlah faktor. Ia membenarkan salah satunya adalah banyak pedagang yang beralih ke sistem transaksi online.

"Salah satu faktor itu oke, bisa. Tapi bukan faktor utama ya. Yang pasti pailit dan dipailitkan itu kan beda.  PGS ini kan dipailitkan. Berarti kan ada keputusan Pengadilan Niaga yang memutuskan PGS sekarang dalam kondisi pailit. Berarti kan ada permasalahan bisnis disitu. Ada investasi yang mungkin kurang sukses yang menyebabkan PGS ini dipailitkan," ujar Bahtiar saat ditemui.

Menurut Bahtiar, meski jumlah pengunjung dan tenan menurun dalam setahun terakhir, aktivitas jual beli di PGS masih berjalan baik. Sebenarnya, lanjut dia, masih banyak potensi untuk PGS bisa kembali berjaya di masa datang. Para pedagang selama ini mampu bertahan dengan kombinasi penjualan online dan offline.

Apalagi PGS memiliki posisi strategis di titik nol Solo dengan lahan parkir bus dan kendaraan lainnya yang luas di area Benteng Vastenburg.

 

Pusat Grosir Solo Tutup Permanen
Pusat Grosir Solo Tutup Permanen. (merdeka.com/Arie Sunaryo)

Ribuan Orang Terancam Kehilangan Pekerjaan

Bahtiar menyebut, penutupan PGS berdampak besar terhadap tenaga kerja. Saat ini ada sekitar 400 pekerja toko yang berpotensi kehilangan pekerjaan. Belum termasuk 40 karyawan pengelola gedung seperti security dan cleaning service yang juga dirumahkan.

"Kalau dihitung mundur sejak Desember 2025 saat masih ada 700-an kios aktif, mungkin ada ribuan orang yang menjadi tunakarya akibat penutupan ini," ungkapnya.

Bahtiar menambahkan, setelah penutupan, proses selanjutnya adalah pengosongan gedung. Kemudian gedung berlantai 5 akan dilelang. PGS memiliki total 5 lantai, yang terdiri dari area basement, lantai dasar, hingga lantai 2.

"Ini nanti prosedur setelah ini, setelah dikosongkan akan dilelang. Nanti investor kewajibannya harus bayar apa, apa eh sorry, kurator melakukan pemberesan utang dan lain-lain. Nanti PGS akan menjadi apa, urusannya investor," pungkasnya.

Rekomendasi