PT Nusantara Regas menyatakan terminal terapung dan regasifikasi unit (Floating Storage and Regasification Unit/FSRU) Jawa Barat harus menggunakan air laut untuk merubah gas alam cair (Liquidfied Natural Gas/LNG) menjadi bahan bakar gas pembangkit listrik milik PT PLN (Persero).
Direktur Utama Nusantara Regas Hendra Jaya mengatakan pihaknya menggunakan pompa air besar untuk mengambil air dari laut. Namun, sampai saat ini pihaknya terkendala sampah yang ada di Teluk Jakarta tersebut.
"Sampah di Jakarta itu luar biasa, itu bisa menyebabkan problem, kita pasang filter tapi masih (mengganggu)," ujar dia kepada wartawan dalam acara kunjungan ke FSRU Jawa Barat, akhir pekan ini.
Hendra menjelaskan, FSRU yang mengelola LNG tersebut, harus melakukan pemanasan pada LNG yang bersuhu minus 160 derajat celcius sebelum dialirkan ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Muara Karang. Dalam proses pemanasan yang memanfaatkan air laut, banyak sampah yang mengganggu proses tersebut sehingga mengganggu proses operasi.
"FSRU kita pakai air laut bagian pemanasan LNG agar cair, LNG itu sekarang bentuknya cairan suhu minus 160 celsius, karena itu untuk jadi gas kembali harus dipanaskan. Untuk mengangkat air laut terganggu sampah, itu menyebabkan beberapa jam terganggu," jelas dia.
Meskipun menghadapi kendala tersebut, anak perusahaan gabungan antara PT Pertamina (persero) dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) ini berkomitmen tetap menjaga kesinambungan operasinya. Sejak beroperasi 24 Mei 2012 sampai saat ini, Nusantara Regas tidak pernah berhenti beroperasi. Akan tetapi, diakui Hendra, memang operasinya belum mencapai 100 persen.
"Kita anggap dari bagian teknikal yang kita hadapi, ibarat mobil ada periode yang terjadi gangguan, tapi semuanya rata-rata sesuai 99,7 persen (beroperasi) kita maunya 100 persen. Kita tetap menjaga dalam range yang dikehendaki," pungkas dia.