Gagal di Indonesia Airlines, Rudy ditinggal anak buah?

"Indonesia Airlines itu tidak gagal, tapi pemegang saham ingin menutupnya," kata Rudy.

Alwan Ridha Ramdani
Oleh Alwan Ridha Ramdani - Reporter
Gagal di Indonesia Airlines, Rudy ditinggal anak buah?
Merpati Airlines. Merdeka.com/Arie Basuki

Semenjak diangkat menjadi Direktur Utama Merpati Rudi Setyopurnomo, kegaduhan di perusahaan pelat merah penerbangan ini terus berlanjut. Setelah pada awal pengangkatan mantan direktur Indonesia Airlines, dua petinggi perusahaan mundur yakni, Direktur Teknik Wisudo dan Direktur Keuangan Muhamad Roem mundur, kini Direktur Operasi mengikuti langkah kedua kolegannya. Masalahnya, adalah pada hubungan internal yang dikabarkan tidak solid di perusahaan yang masih dalam penanganan Perusahaan Penjamin Aset (PPA). Direktur Operasi Merpati Asep Eka Nugraha mengatakan gerakan ketidakpercayaan kepada manajemen sudah meluas di kalangan karyawan dan sudah merambah ke ranah operasional. Upaya dia sebagai Direktur Operasi untuk memperbaiki keadaan justru ditanggapi dengan arogansi yang mengakibatkan terjadinya perombakan jajaran manajemen di direktorat operasi tanpa mempertimbangkan efek dari tindakan tersebut.Alasan lain adalah kondisi perusahaan semakin buruk. Terkait kondisi perusahaan, kata dia, bukan karena karyawan kurang berkerja keras, tetapi justru karena penghargaan yang karyawan dapatkan setelah bekerja keras tidak sebanding dengan harapan. "Akibatnya terjadi penurunan kepedulian terhadap performa perusahaan," tegasnya.Anggota DPR asal Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Ecky Awal Mucharam mengatakan mantan Direktur Indonesia Airlines tidak melakukan upaya solidalitas dikalangan internal. Padahal, SDM internal sangat berperan dalam meningkatkan perusahaan. "Mana ada karyawan yang ingin perusahaan ditutup, saya kira semangat antar karyawan harus dibangun," katanya.Apalagi, kata Ecky, perusahaan ini masih dalam pengawasan PPA dan sudah puluhan kali disuntik modal oleh negara. "Saya kira dirutnya gagal melakukan soliditas team. Manajemen stylenya tidak sesuai dengan dalam membangun solidalitas karyawan," ujarnya. Dia menilai karyawan cenderung menerima manajemen lama yang sudah membawa Merpati keluar dari 'ICU'. "Ini kok tiba-tiba diganti lagi. Celakanya dirut baru tidak mampu mengonsolidasi pekerja. Padahal, dirut hanya 5 tahun menjabat, tapi karyawan adalah aset," katanya.Senada dengan Ecky, Pengamat Penerbangan Alvin Lie menilai pendekatan keras yang dilakukan direktur anyar membuat pertentangan di dalam Merpati. "Merpati adalah perusahaan yang sudah lama, sudah ada karakter di sana, kebiasaan, dan gayanya. Manusia butuh proses," katanya pada merdeka.com.Dia mengatakan kegagalan Rudy membawa Indonesia Airlines gagal berkembang, tetap memberikan pengaruh terhadap karyawan. "Kalau ini diibaratkan Rafael Benitez ditunjuk melatih Chealse. Dia (Rudy) harus kerja keras membuktikan kepiawaiannya," ujarnya.Direktur Utama PT Merpati Airlines membantah adanya isu tidak adanya soliditas diantara karyawan Merpati. Bahkan di pun membantah kekhawatiran karyawan akan bernasib sama dengan Indonesia Airlines. "Indonesia Airlines itu tidak gagal, tapi pemegang saham ingin menutupnya," katanya.Dia menegaskan dirinya sudah berpengalaman dalam menangani maskapai penerbangan. Paling tidak selama 20 tahun berada di Garuda Indonesia dengan jabatan terakhir sebagai corporate strategi Garuda. "Saya anggap orang di Merpati adik-adik saya, saya mengajari bagaimana mereka melayani penumpang." ungkapnya. Perubahan saat ini adalah dengan tingkat load faktor yang mencapai 85 persen.Bahkan, kata Rudy, Asep sebelum mengundurkan diri cium tangan dirinya dan keluar dengan baik-baik saja. "Tapi kenapa di suratnya lain. Ya biarlah. Dia saya anggap sebagai adik saya, dia salah seorang direksi yang tidak diganti saat saya datang ke Merpati, " katanya. Justru solidaritas karyawan terjaga dan ini saatnya karyawan yang muda-muda untuk naik.

Rekomendasi