Mengapa Pertamina sulit kurangi pencurian minyak mentah?

"Seberapa pun nilai CSR yang kami kasih, kalau harga keekonomian minyak masih tinggi, tetap saja banyak pencurian.".

Saugy Riyandi
Oleh Saugy Riyandi - Reporter
Mengapa Pertamina sulit kurangi pencurian minyak mentah?
Kilang minyak. ©istimewa

Beberapa tahun ini, PT Pertamina EP, anak usaha Pertamina mengeluhkan pencurian minyak mentah miliknya terus meningkat. Bahkan, akibat tingginya pencurian minyak terutama di sepanjang pipa distribusi minyak mentah Pertamina di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan sempat meledak.Atas insiden tersebut, membuat kerugian materil bagi Pertamina dan jiwa yang dialami masyarakat sekitar serta kebocoran minyak mentah di dekat rumah penduduk. Paling tidak, 4 orang warga yang biasa mencuri minyak tewas sementara 19 luka parah.Kerugian jiwa yang dialami masyarakat, ternyata tidak membikin para pencuri kapok untuk mengambil minyak mentah dengan merusak pipa jalur distribusi di Jalur Tempino-Plaju, Sumatera Selatan. Paling tidak, di awal tahun ini jumlah minyak yang dicuri sudah mencapai 1.100 barel per hari.Pertamina menuduh maraknya pencurian minyak ada aparat yang bermain dan mendukung pencurian tersebut. "Kita sudah teriak-teriak. tapi karena ada oknum yang membackingi sebab itu kan kasat mata sekali," ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Ali, beberapa waktu lalu.PT Pertamina EP, mengaku tidak berdiam diri atas pencurian minyak yang semakin menjadi. Pihaknya telah mengadu ke DPR, Kementerian ESDM dan Presiden SBY, akan tetapi sampai saat ini pencurian masih terjadi. Namun, penyelesaian di Kepolisian tidak bisa membuat efek jera bahkan tidak diproses.Perusahaan pelat merah ini mencatat pada 2012, hampir 6 persen produksi minyaknya dicuri masyarakat atau setara dengan kerugian negara hampir mencapai Rp 500 miliar. "Pencuriannya, dari awal tahun sampai Januari tanggal 5 saja sudah 6,5 persen," katanya.Jalan keluar yang dilakukan Pertamina, selain melakukan patroli rutin, adalah mengusulkan dengan mengalihkan masyarakat sekitar pipa distribusi minyak menjadi pengelola sumur tua seperti di daerah Cepu, Bojonegoro yang dikelola dengan baik oleh masyarakat melalui koperasi sehingga masyarakat menjadi produktif. Pengamat Perminyakan Pri Agung Rakhmanto menilai pencurian minyak yang dilakukan masyarakat, sangat kompleks karena melibatkan banyaknya oknum dan pihak keamanan yang seharusnya menjaga objek seperti pipa. "Mereka malah ikut melakukan aksi pencurian," katanya.Dia menegaskan nota kesepahaman antara Pertamina dan aparat keamanan hanya di atas kertas. Praktik di lapangan sangat susah diterapkan. "Lagipula penegakan hukum kita masih sangat lemah dan melibatkan banyak pihak dalam melakukan pencurian minyak mentah," katanya pada merdeka.com, Senin (7/1).Pertamina pun mengaku pusing dengan maraknya pencurian minyak ini. Walaupun pipa distribusi sudah di tanam sedalam 2 meter. Bahkan pemberian dana sosial perusahaan tidak mampu menghentikan pencurian."Buat koperasi juga kalau itu juga jalan. Seberapa pun nilai CSR yang kami kasih tetapi kalau harga keekonomian minyak masih tinggi, tetap saja banyak pencurian," katanya. Saking kesalnya tingginya pencurian minyak, membuat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian ESDM bersoloroh meminta para pelaku pencurian menjual hasil curiannya pada PT Pertamina. Dengan iming-iming harga tersebut dibeli dengan harga 75 persen dari harga minyak mentah Indonesia."Agar semua pelaku pengelola ilegal sumur tua digiring mengikuti aturan yang ada, yaitu membuat koperasi dan kerja sama dengan Pertamina, di mana semua produknya ditampung pertamina dengan harga yang telah ditetapkan BP Migas, " ujar Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini beberapa waktu lalu.

Rekomendasi