Eropa memburuk, Rupiah juga ikut terpuruk

Kondisi politik Yunani, Perancis membebani pasar saham dunia sehingg ikut membatasi aktivitas bursa domestik dan rupiah

Salim Faozan Kartasentika
Eropa memburuk, Rupiah juga ikut terpuruk
uang rupiah. merdeka.com/shutterstock

Perdagangan mata uang, Kamis (10/5), diperkirakan akan dibuka dengan melemahnya Rupiah terhadap USD. Pengamat pasar uang Rahadyo Anggoro mengungkapkan, pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap USD pada perdagangan pagi ini kemungkinan hanya akan mampu berada dalam kisaran Rp 9.220 sampai Rp 9.250 per USD.

"Masih akan stabil tapi cenderung melemah," ujar Rahadyo, Rabu (9/5).

Sulitnya Rupiah bergerak positif diperkirakan tidak terlepas dari situasi politik di Eropa yang masih memberikan sentiment negatif. "Sedangkan pembelian USD oleh pemilik BI notes yang akan jatuh tempo pada 10/5 mendatang, memberi sinyal support buat Rupiah," tambah Rahadyo.

Pada perdagangan mata uang, Rabu (9/5), Rupiah ditutup melemah ke level Rp 9.225-9.235 per USD. Tidak adanya pergerakan yang signifikan dari rupiah disebabkan masih adanya kekhawatiran pasar atas kondisi fiskal Eropa yang terancam oleh memanasnya politik Yunani. Kondisi tersebut berdampak membebani pasar saham dunia hingga ikut membatasi aktivitas bursa domestik dan rupiah.

"Kondisi ini menyebabkan Euro memperpanjang penurunannya terhadap USD, jatuh di bawah level support 1,30, karena kekhawatiran atas kemungkinan kegagalan Yunani atau keluar dari zona euro meningkat," jelas Rahadyo.

Kekhawatiran atas masa depan Yunani memuncak setelah Alexis Tsipras, Ketua Syriza partai terbesar kedua Yunani menyatakan bahwa paket bantuan keuangan Yunani adalah batal demi hukum dan menyerukan moratorium pembayaran utang Yunani.

"Investor juga takut bahwa fokus Presiden terpilih Perancis Francois Hollande atas pertumbuhan daripada langkah penghematan sebagai sarana untuk mengatasi krisis utang zona euro dapat memicu ketegangan dengan Jerman," papar Rahadyo.

Sementara dari dalam negeri, dari dalam negeri kondisi ini didukung dengan Tren IHSG yang diperkirakan masih lemah merespon sentimen negatif dari pasar global.

Rekomendasi